Vita Part 1

Posted: March 10, 2011 in art
Tags:

Sejenak ada perasaan aneh melingkupi dirinya, berdiri setengah telanjang seperti ini dihadapan lelaki, baru kali ia lakukan. Tapi ia mengibaskan perasaan itu dan segera bergerak menuju air.  Kabes tampak acuh tak acuh melihatnya, tetapi Sam melotot melihat tubuh putih mulus Pevita yang sangat kontras dengan tubuhnya sendiri. Pevita berusaha mengacuhkannya dan merendamkan tubuhnya kedalam air, sungguh segar rasanya. Tiba-tiba Kabes waspada, ia segera berlari kedaratan langsung menuju hutan.

“Eh..mau apa kamu?..lepasin” kata Pevita gemetar, pikirannya berkecamuk.

Sam tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya dan mencoba mencium bibir Pevita, Pevita terkejut dan mencoba memalingkan wajah, namun terlambat, bibir Sam telah menyentuh bibirnya, terasa hangat dan basah, Pevita pun hanya bisa mematung. Perlahan lidah Sam menyapu bibir Pevita merah Pevita, menjilatinya perlahan sambil membuka celah masuk. Berbagai macam pikiran berkecamuk di benak Pevita, ia sungguh bingung akan apa yang terjadi. Tanpa sadar mulutnyapun terbuka. Lidah Sam seakan tahu ada celah, langsung menerobos mulut Pevita, lidahnya langsung menjilati seluruh sudut mulut Pevita hingga akhirnya lidah mereka saling membelit. Pevita yang terbawa aruspun membalasnya.  Mereka pun berciuman cukup lama, hingga air liur mereka tampak membasahi sekeliling mulut mereka berdua.  Sam pun memegang kepala Pevita dengan dua tangannya,

Baru kali ini Pevita memegang penis orang dewasa, rasanya hangat, dan berdenyut-denyut layaknya mahluk hidup. Kedua tangan Pevita yang mungil tidak sampai menutupi penis Sam yang panjang, Pevita pun perlahan menaik turunkan genggamannya di sepanjang batang penis Sam. Sam pun terengah-engah merasakan hallusnya tangan Pevita disepanjang batang penisnya, ciuman mereka pun bertambah hangat. Tak lama, Sam mengangkat tubuh Pevita dengan mudahnya, dan menggendongnya kepinggir danau. Ia lalu membaringkan tubuh Pevita diatas rumput tebal yang terletak tak jauh dari situ. Mereka berdua saling tatap, pancaran kasih sayang tampa jelas dimata Sam, sementara pandangan Pevita begitu sayu, antara berahi, ragu-ragu, dan penasaran. Disatu sisi ia pasrah karena ingin balas budi, disisi lain ada rasa takut yang menyelebunginya, takut akan suatu hal yang belum ia kenal sebelumnya, yaitu memadu cinta. Setelah membaringkan Pevita, Sam berbaring di sebelahnya, ia lalu kembali mencium Pevita dengan penuh kasih sayang, sementara satu tangannya meraih payudara Pevita, lalu meremasnya dengan lembut. Pevita tersentak, belum pernah ada laki-laki yang menjamahnya seperti itu sebelumnya. Remasan lembut Sam terus berlanjut, hingga ia akhirnya mencoba meyingkirkan cup bra Pevita, namun sulit karena kaitnya masih terpasang. Menyadari hal itu, Pevita lalu bangkit duduk, kedua tanganya kebalik punggung dan membuka kait Bra-nya, bra-nya pun terlepas dengan mudah, memperlihatkan kedua payudaya mudanya yang begitu mengkal dan menggoda.

Melihat kedua payudara indah Pevita yang tidak tertutup apapun, Sam menahan nafasnya, sejak pertama melihat Pevita, ia telah jatuh hati. Belum pernah ia melihat seorang perempuan secantik Pevita sebelumnya. Kulitnya yang putih bersih dan halus, sangat berbeda dengan perempuan di desanya yang rata-rata kasar karena kerja keras. Belum lagi wajah cantiknya yan sempat membuat Sam berpikir bahwa Pevita adalah bidadari yang jatuh dari langit. Menyadari tatapan Sam yang begitu dipenuhi kekaguman, wajah Pevita memerah, ia merasa malu sehingga berusaha menutupi kedua payudaranya dengan tangannya. Tatapan malu-malu serta sikapnya yang begitu lugu namun menggoda justru memuat Sam makin terpukau. Ia lalu meraih kedua tangan Pevita, mencium kedua tangannya dengan mesra, lalu dengan lembut kembali membaringkan Pevita diatas rumput. Mulut Sam lalu menjelajah perut Pevita, menciumi mulai dari bawah perut, pusar, dada bagian bawah, ujung payudara Pevita, hingga akhirnya sampai ke puncak payudara Pevita dimana ia mengecup putting payudara Pevita lalu perlahan memasukkannya kedalam mulut, dan menghisapnya dengan lembut.  Pevita kembali menggelinjang , geli sekali rasanya. Kali ini kedua tangan Sam meraih kedua bukit payudara Pevita dan meremasnya dengan lembut, dan mulutnya beralih-alih antara dua pucuk bukit payudara pevita, hingga akhirnya kembali mendaratkan ciuman di bibir Pevita yang merekah.

Cukup lama juga keduanya bercumbu, hingga akhirnya Sam beringsut dan memposisikan diri di depan Pevita. Tangan Sam meraih berusaha menarik celana dalam Pevita. Untuk sejenak Pevita meragu dan mempertahankan celana dalamnya, ia menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. Melihat penolakan Pevita, Sam pantang mundur, ia lalu menindih Pevita sementara satu tanggannya menyelusup lewat bagian atas celana dalam Pevita. Pevita berusaha meronta, tapi rontaannya lemah karena tidak disertai tekad yang kuat. Akhirnya tangan Sam berhasil menyusup kebalik celana dalam Pevita, dan meraih gundukan bukit kecil di selangkangannya. Sam pun meremas-remas bukit kecil itu dengan perlahan. Jari-jarinya lalu menemukan belahan pada bukit kecil itu, dan Sam lalu menyusuri belahan tersebut dengan jarinya, naik-turun dengan perlahan. Erangan pun keluar dari mulut Pevita, rontaannya semakin melemah. Susuran jari Sam di sepanjang belahan vagina Pevita pun semakin dalam dan dalam, hingga akhirnya Kaber menggososk clitoris Pevita dengan cukup keras, Pevita pun merasakan aliran listrik meyengat tubuhnya.

“ahhhh..jang..ann” erang Pevita.

Tapi Sam melanjutkan gosokannya tanpa ampun. Pevita pun semakin larut dalam birahi. Melihat Pevita sudah pasrah, Sam langsung menarik lepas celana dalam Pevita, iapun membuka kedua kaki Pevita lebar-lebar, dan jatuh terduduk didepan selangkangan sang artis belia.

“Jang..ann..dilihat…aku..malu” erangnya sambil berusaha menutup kedua kakinya, namun kedua tangan Sam menahannya.

Seakan setengah sadar, tangan kanan Sam menyusuri kaki Pevita, naik kelutut, lalu membelai paha mulus dihadapannya, hingga akhirnya  sampai ke pangkal paha Pevita. Tangan itu pertama-tama mengusap vagina indah tersebut, kemudian kedua jarinya menyusuri belahannya yang rapat, lalu perlahan meregangkan belahan vagina tersebut, menguakan vagina tersebut dan memperlihatkan bagian dalamnya yang berwarna merah muda, merekah indah bagai bunga yang siap dipetik. Sam ternganga, tangan dan kakinya gemetaran, Perlahan kedua jari yang masih meregangkan vagina Pevita itu mulai bergerak masuk, menusuk kedalam liangnya. Masih amat sempit, kedua jari itupun hampir tidak bisa masuk, namun dengan perlahan, sedikit demi sedikit, kedua jari itupun sedikit menembus liang vagina yang belum pernah terjamah siapapun sebelumnya.

Pevita merintih, antara sesak, geli, nikmat, ia bisa merasakan senti demi senti kedua jari Sam yang menembus liang vaginanya. Sam pun menikmati  jepitan erat vagina Pevita, denyutan dinding vagina yang memijat jarinya, sensasi yang tak terbayangkan sebelumnya. Sam pun mendorong jari-jarinya untuk masuk lebih jauh, perlahan-lahan, dan ketika sudah mentok, ia lalu menariknya keluar, lalu mendorongnya masuk kembali. Rintihan Pevita makin keras, iapun menggigit bibirnya menahan rasa nikmat yang menerpanya. Perlahan Sam merasakan vagina itu makin basah, dan mengeluarkan cairan lengket tapi licin yang berbau khas. Sam lalu memposisikan diri diantara kedua kaki Pevita, satu tangannya memegang penisnya, sementara satu tangannya memegang paha Pevita, ia lalu menggosok-gosokkan kepala penisnya ke belahan vagina Pevita. Merasakan sentuhan benda tumpul itu, Pevita kembali merasa panik menyerangnya, disatu sisi ia ingin melanjutkannya, tapi di sisi lain ia memikirkan keperawanannya.  Ia kembali hendak meronta, tetapi Sam kembali menindihnya, satu tangannya mengusap-usap wajah canti Pevita, mulutnya mengeluarkan suara menenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s