lyra virna 2

Posted: March 26, 2011 in art
Tags:

Pulang dari bioskop, pikiranku mulai kacau. Beragam khayalan muncul menggoda. Apalagi Lyra makin merapatkan badannya, seolah kami ini pasangan yang sudah pacaran lama saja.
“Mau langsung pulang atau putar-putar dulu..?”
“Mmm.. putar-putar juga boleh.”
“Mau ke Ancol..?” aku coba memancing reaksinya.
“Ayo aja..”

Mobil pun mengarah ke Ancol. Langsung kuparkir ke tepi laut, seperti mobil-mobil yang lainnya. Jantungku mulau berdegup kencang membayangkan hal-hal yang akan terjadi kalau Lyra tidak menampiknya.

Kami mendorong sandaran kursi kami ke belakang, sehingga lebih santai. Aku mencoba mengambil inisiatif. Kudekatkan wajahku ke wajah Lyra, kuarahkan bibirku ke bibirnya yang merah merekah. Aku pun segera mendaratkan bibirku, melumat bibirnya yang menggoda. Lyra memejamkan matanya, menikmati rangsangan dan gejolak birahi yang timbul saat bibir kami saling melumat. Nafasnya terdengar mulai memburu.

Kuusapkan tanganku ke bra-nya sambil meremas lembut. Lyra segera membantuku dengan membuka bra-nya, sehingga tanganku bergerak bebas merengkuh kedua bukit kembarnya yang menantang polos di balik blus tanpa lengan yang sudah tersingkap. Kuusap-usap putingnya dengan telapak tanganku. Sesekali aku memilinnya dengan telunjuk dan ibu jariku. Selebihnya aku lebih banyak meremas lembut payudara yang selama ini mengoda mataku saat main ke apotik tempatnya bekerja.

Tidak lama kemudian kuarahkan bibirku ke puting susunya yang sudah mengeras.
“Ahh.. Emhh..” erangan Lyra makin membangkitkan gairah dan semangatku.
Lyra sangat menikmati setiap gejolak birahinya. Seperti inilah tipe wanita kesukaanku. Tidak terlalu agresif dan cenderung menikmati permainanku. Aku sangat menikmati ekspresi kenikmatan pasanganku. Aku kurang menyukai cewek yang berlaku aktif saat bercinta.

“Emhh.. enak mass.. Teruss.. Teruss.. Ahh..!” desahnya lagi.
Sambil kembali mencium bibirnya, aku mulai mengarahkan tanganku ke selangkangan Lyra. Waktu CD-nya kusentuh, ternyata ia sudah basah. Ciuman bibirnya menjadi lebih liar.

Tiba-tiba ia menarik bibirnya sambil berkata, “Mas Sam, dilanjutkan di rumah Mas Sam yuk..! Lyra udah nggak tahan nih..!”
“Di sini juga bisa kok,” aku mencoba meyakinkan Lyra.
“Nggak ah, malu. Ntar ada yang ngintip. Berabe kan.”
“Katanya udah nggak tahan.., Mas juga udah nggak tahan nih..!”
“Jangan di sini Mas.., pokoknya lebih enak di rumah Mas Sam deh..”
“Jangan kuatir, entar sepanjang jalan Lyra usap-usap deh torpedonya.” Lyra merajuk sambil mengusap lembut torpedoku yang sudah keras.
Torpedoku memang sudah tidak terhalang celana dan CD lagi. Retsluiting sudah dibuka, CD sudah disingkapkan ke bawah buah pelir.

Terpaksa kuturuti permintaan Lyra. Alhasil, sepanjang jalan aku menyetir sambil menggeliat nikmat karena usapan-usapan lembut Lyra di bagian-bagian sensitif torpedoku.

Sampai di rumah, pembantuku ternyata sudah tidur. Kulihat jam tanganku menunjukkan jam 1 pagi. Aku pun perlahan membuka pintu garasi, memasukkan mobil, lalu membimbing Lyra ke kamar tidur utama. Gejolak birahi yang tertahan sepanjang perjalanan membuatku langsung merengkuh tubuh semampai Lyra, melumat bibirnya, sambil perlahan melepas pakaiannya satu per-satu.

Dalam sekejap kami sudah telanjang dan berada di atas ranjang. Sekali lagi aku menikmati tubuh menawan Lyra, melumat puting susunya, sambil mengusap-usap belantara dan gua yang sudah basah. Terdengar bunyi berdecak ketika tanganku memainkan gua di selangkangannya sambil melumat payudaranya yang sintal.
“Emhh.. enak Mass..! Teruss.. Teruss.. Ahh..!”
Ia betul-betul gadis yang menikmati setiap denyut kenikmatan birahinya. Erangan dan ekspresi yang ditunjukkannya benar-benar nikmat didengar dan dipandang.

Terasa penisku semakin mengeras. Kulihat Lyra meregangkan kedua kakinya, mengundang penisku untuk masuk.
“Ahh.. Emhh..” kembali Lyra mengerang nikmat, “Masukkan Mas.., udah nggak tahan nih..! Akkhh..!” bisiknya bercampur erangan nikmat.
Aku pun segera memasukkan penisku ke dalam gua yang sudah basah. Karena sudah licin dengan cairan kenikmatan Lyra, dengan mudah penisku yang sebenarnya termasuk besar itu dapat masuk sampai ke bagian terdalam vaginanya.

Terasa denyutan dinding vaginanya pada batang penisku. Ahh, nikmat sekali. Aku mulai bergerak naik turun perlahan, sambil menikmati erangan khas Lyra. Gerakanku makin lama makin liar, seiring makin liarnya erangan dan gerakan pinggul Lyra.
“Ahh, aku udah mau keluar..” bisikku kepada Lyra.
“Tahan dulu Mas.. sebentar lagi..!” rengek Lyra.
Aku pun mengatur nafas sambil melepas erangan untuk menahan ejakulasi. Aku menawarkan Lyra untuk pindah ke posisi atas, supaya ia dapat mengatur gerakan yang sesuai dengan ritme orgasmenya.

Kami pun berguling, penisku tetap berada di dalam vaginanya saat kami berguling ganti posisi. Lyra kini di sebelah atas. Ia bergerak naik turun.. naik turun.. Lama-lama berubah berputar-putar dan sesekali naik turun.. Erangan Lyra berbaur dengan eranganku menahan ejakulasi.

“Ahh, enakk.. akk.. ku.. udah.. mmh.. mau keluar..!” Lyra mengerang nikmat.
Aku pun mulai bergerak mengatur ritme agar dapat ejakulasi bersamaan klimaks yang dicapai Lyra.
“Ahh, akk.. ku.. juga.. Mmmhh..!”
Terasa tubuh kami mengejang bersama-sama.

“Thanks.., Lyra. Kamu luar biasa..” aku berbisik ke telinga Lyra.
“Mas Sam juga luar biasa..” bisik Lyra.
Malam itu Lyra menginap di rumahku. Kami tidur tanpa busana setelah mandi bersama.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s