magdalena 2

Posted: March 26, 2011 in art
Tags:

Lena semakin gelisah, kepalanya tertunduk menatap tonjolan di balik kaosnya. Ada rasa gatal yang mengganggunya disana. Gatal yang menuntut sebuah sentuhan. Sentuhan yang sama sekali bukan garukan. Tangan kiri Lena gemetar, bergerak naik dengan sangat perlahan menuju bulatan sebelah kanan. Ritme nafasnya tak teratur. Saat hampir menyentuh, gerakannya terhenti. Tangannya semakin gemetar ragu ragu. Setitik nurani mengingatkan jika bukanlah hal yang benar. Tapi rasa ini semakin menggila. Lena memejamkan mata dan berusaha mengatur nafasnya yang semakin berantakan. Dengan ekspresi seperti menahan tangis, ia menggigit bibir dan menyerah. Ia menyentuh buah dada kanannya. “ooouuhh……” ia merinding. Rasanya nikmat sekali. Secara naluriah tangannya bergerak meremas. Dan kenikmatan itu semakin membara, menyala nyala, menjalar cepat ke seluruh tubuh. “uuhh…ahhh…oouuww….” ia mengerang , tangannya tak bisa berhenti , bahkan kini tangan kanannya ikut beraksi membelai vaginanya yang masih terbungkus celana pendek. “uuhhmmm……” kepalanya sedikit terangkat dengan mata terpejam. Tubuhnya menggeliat dan menggelinjang menikmat rangsangan yang dibuatnya sendiri. Tiba tiba pintu kamar terbuka. Lena dengan panik mengembalikan tangannya ke posisi semula dan berusaha terlihat biasa biasa saja. Sam memasuki kamar dan terkejut melihat Lena duduk bersandar di ujung ranjang , “lho Lena, kok tidak tidur???” “eeeng…mm..gak…bisa tidur ..sam….” suara lena bergetar. Birahi masih menguasai dirinya.“ooo..gitu….” sam membelakangi pintu dan menutupnya. Ada suara klik pelan terdengar. Kening lena berkerut. Apakah sam baru saja mengunci pintu? “gak bisa tidur kenapa..???” tanya sam sambil mendekat. Matanya melirik sekilas ke arah gelas teh yang kosong. Ia pun tersenyum. Lena tak menjawab. Ia masih menatap pintu. Apa tadi sam mengunci pintu? “gak bisa tidur kenapa ..??” ulang sam sambil duduk di hadapan Lena. “eeh..sam…tadi…pintunya dikunci…??” “enggak…” jawab sam cepat , “kamu udah baikan…??” tangannya menyentuh kening Lena dengan gugup. Lena sebenarnya masih penasaran dengan pintu, namun sentuhan gurunya membuat tubuhnya bereaksi. Darahnya berdesir lebih cepat, merinding, birahinya kembali menyala hebat.Sam tersenyum melihat Lena semakin gelisah. “sam..pintunya….” “sshhh..!!! udah , kok malah mikirin pintu..” sam semakin gugup , “kamu tidur aja , istirahat. Biar nanti waktunya pulang kamu udah baikan. Repot kan kalau kamu sakit di perjalanan….” Kata kata sam ada benarnya. Tapi bukan itu yang membuat Lena kemudian memutuskan untuk berbaring kembali. Ia berbaring karena ingin segera terlelap dan melupakan birahi yang mendera ini. namun seberapapun ia berusaha, ia tak kunjung tertidur. Dengan sendu Lena membuka mata. Sam masih disitu, tersenyum. “kenapa , gak bisa tidur..???” Lena mengangguk pelan. “kalo gitu bapak pijitin gimana..?? Lena tak sempat menolak. Tangan sam telah meraih bahunya dan memijatnya. “ehhmm…” rasanya enak sekali. Ia pun memutuskan untuk menikmatinya saja dan memejamkan mata. Ia tak menyadari jika buah dadanya yang naik turun seiiring tarikan nafas , kini menjadi tontonan menggairahkan bagi sam. Bibirnya yang mendesah sedikt terbuka , efektif menjentikkan birahi pria itu semakin menyala hebat. Pijatan yang ritmis. Senyum sam kian melebar melihat Lena yang semakin terbuai. Ia mendekatkan wajah. Sangat dekat malah , bibir mereka nyaris bersentuhan. Sam menghembuskan nafasnya disana dengan lembut dan penuh perhitungan. Bibir lena bergetar menuntut perlakuan lebih. Gadis itu telah takluk pada gairah yang menderanya. “ahhhsss…” lena mendesah saat bibirnya bersentuhan walau hanya sedetik. Sam sengaja ingin memainkan gairah Lena. Berkali kali ia melakukan sentuhan bibir sekejap diselingi dengan sesapan kecil ujung bawah bibir Lena. Pijatan di bahu gadis itu perlahan melemah, terus melemah, dan melemah, dan melemah, dan berhenti. Satu dua detik tangan sam tak bergerak sebelum kemudian dengan perlahan merayap turun, inci demi inci menuju buah dada. Dan meremasnya. “ooughh….” belaian dan remasan itu membuat Lena merinding. Tubuhnya menggelinjang. “j-jangan…sam….” tapi tak ada usaha penolakan yang signifikan. Sam semakin berani, lagipula ia diburu waktu sebelum rombongan kembali dari Malioboro. Kaos dan BH Lena ia singkap, ia pun menelan ludah melihat keindahan yang terpapar di depan matanya. Selama ini, saat di sekolah pemandangan terbaik yang bisa dilihatnya adalah pada saat pelajaran olahraga, itupun Masih harus terbatasi oleh kaos ketat dan celana pendek. “aaahh…..uuhh….” Lena mendesah , ekspresinya seperti menahan tangis saat lidah sam bermain nakal di seputaran putingnya. Sesekali pria itu menyedotnya dan juga melakukan gigitan kecil yang semakin membuat Lena belingsatan. Ia lalu kembali melakukan remasan, pijatan penuh perasaan yang dilakukan dengan kedua tangan, bibirnya menyusuri pinggiran buah dada Lena. Puas dengan buah dada, sam melepas celana pendek Lena. Gadis itu kini telanjang bulat. Pahanya yang mulus, kaki yang jenjang, vagina yang masih pure. “akhirnya…..” gumam sam. Tak membuang banyak waktu lagi, ia membenamkan kepalanya di antara kaki Lena. Vaginanya harum, membuat sam bersemangat menjilatinya. “oooohhh……!!!” Lena tersentak saat benda basah itu menyapu permukaan vaginanya. Hatinya terus melakukan penolakan, namun tubuhnya justru melakukan pnerimaan total. Ia mendesah dan mengerang, tubuhnya menggeliat, tangannya terkadang meremas seprai , kadang meremas bantal. Nafsu sam sudah di ubun ubun. Dengan kecepatan clark kent saat berubah menjadi Superman, ia melepas pakaian. Mata lena terpejam, jadi ia tak melihat penis sam yang sudah berdenyut tak sabar, namun begitu ia bergidik saat benda tumpul itu menyentuh vaginanya. Setitik kesadaran sontak menyengatnya, ia akan segera kehilangan kesuciannya dan itu harus dicegah. “sam…jangan sam….jangan…..” tapi ia tak punya cukup tenaga untuk melawan. Tubuhnya masih lemas karena pengaruh obat tadi. Lagi pula terlambat, dengan keras penis sam telah menghujam ke dalam vaginanya. “aahhh……!!!!” air mata Lena mengalir, tangannya semakin kuat mencengkram seprai. Dengan hati hati sam mendorong penisnya semakin dalam. “aahhh..s-ss-sakiitt…….” rintih Lena. Kemaluan sam maju sedikit demi sedikit, Lena terisak pelan, satu tangan menutup mulutnya. “aaaaaaahhhh…..” tubuh Lena mengejang saat akhirnya sam berhasil merenggut keperawannya. Tangannya memukul mukul kasur dengan panik, lalu menutup wajahnya. Dan menangis. Sam tak peduli soal tangisan itu. Ia sedang menikmati keperawanan muridnya yang selama ini selalu menjadi impiannya. Penisnya terus menusuk tanpa ampun vagina Lena. “u-udahh sam…sakiit…aahhh….” Rintihan Lena tentu saja semakin membuat sam bersemangat. Ia malah ingin melihat ‘penderitaan’ Lena lebih ekspresif lagi , maka sambil terus menggenjot tubuh gadis itu , ia meremas kuat buah dada sang dara jelita. Lena mengerang dan merintih lemah, meski sebenarnya ia ingin bersuara lebih keras lagi berharap ada yang mendengarkan dan menolongnya. Tapi lagi lagi, ia tak punya tenaga untuk itu. Lama kelamaan terus menerus menerima genjotan , rasa sakit tadi perlahan berubah menjadi sensasi erotis. Nurani dan birahi kini bertarung hebat di dalam diri Lena. Sodokan sam yang semakin kuat, mengguncang guncang tubuhnya sedemikian rupa. Ia pun pasrah saja saat tubuh sam menindihnya saat gurunya itu mencumbu mulutnya yang terus mendesah. Nafasnya naik turun dan wajahnya memerah. Dan saat itu pun tiba. Lena merasakan denyutan penis sam di vaginanya , yang kemudian diikuti oleh semburan cairan hangat yang memenuhi kemaluannya. Lalu semuanya serasa gelap dan berputar putar. Lena tak sadarkan diri. Sam dengan segera mencabut penisnya yang belepotan sperma dan darah perawan muridnya. Ia membersihkan penisnya dengan tisu , lalu membereskan sisa sisa pertarungannya dengan Lena sambil melirik ke arah jam dinding

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s