ayu anjani hot

Posted: May 4, 2011 in art
Tags:

“Ah, sudah bangun  kau?” secara serempak dua pria itu menyapa Ayu, salah satu mahasiswi cantik di kampus. Sebuah suara yang ngobrol tadi dan lampu yang menyala terang mengagetkan gadis itu. Tampak seorang pria kekar datang menghampiri Ayu. Ayu mengenalinya kedua orang itu, seorang penjaga kampus dan penjaga kolam. Tak lain adalah Imron dan Sam, mereka menyeringai mesum namun sangat menakutkan,

“Hahaha…”, kedua pria bejat itu tertawa terbahak-bahak melihat mangsanya sudah tak berdaya.

Ayu berusaha bangun, namun tangan dan kakinya tetap lemas tidak dapat bergerak.

“Tenang saja non, nggak usah banyak gerak, sore ini kamu di sini dulu.” Kata Imron sambil cengengesan.

Tidak sengaja Ayu melihat ke dinding gudang ada sebuah cermin yang terpampang besar di sebelahnya, ia menyadari kedua tangannya terikat menjadi satu di atas kepalanya, demikian juga kedua kakinya yang terentang ke sudut-sudut meja yang disusun rapi, seperti huruf Y terbalik. Seluruh tubuhnya tertutup koran dan kardus, namun ujung koran yang tersingkap memperlihatkan sebagian paha gadis itu. Ia saat itu menggunakan baju tshirt warna pink dan rok yang cuma bisa menutupi 5 cm di atas lutut bewarna abu-abu.

“Pak, Ayu dimana? Kenapa saya begini?” tanya gadis itu dengan panik dan takut.

Ia mulai teringat saat berlari ke kantin untuk membeli minuman tadi, seseorang telah menariknya dari belakang dan menempelkan sesuatu yang berbau menyengat ke wajahnya, kemudian semuanya menjadi gelap, hingga akhirnya ia kemudian tersadar di situ.

”Tenang non Ayu yang semok, non akan baik-baik saja. Hari ini kita bakalan akan menikmatinya bersama,hahahaha” kata Sam cengengesan, “Udah dua minggu aku dan pak Imron menunggu kesempatan ini,  sekarang kita akan nikmati hari yang menyenangkan ini, bener ga pak Imron?” kata Sam dengan bangganya” kata Sam sambil menyeringai.

“Sip dah!” timpal Imron.

“Enggak! Enggak! Saya akan melaporkan bapak ke polisi! Ayu nggak mau!” gadis itu berusaha meronta, namun ikatan tangan dan kakinya terlalu kuat baginya.

Sambil tertawa terkekeh, Sam perlahan menarik koran dan kardus yang menutupi tubuh gadis itu, membuatnya terpekik karena penutup tubuhnya perlahan dibuka tanpa menghiraukan ancamannya.

“Jangan! Jangan! Aduh jangan! Pak, jangan Pak! Tolong..!” dengan sigap Sam  melepas semua pakaian Ayu dan sekarang terserak dibawah meja, lalu menyumpal mulut gadis itu dengan celana dalamnya sendiri, dan mengikatnya ke belakang dengan bra gadis itu.

“Pak? Kamu panggil aku Pak? Aku ini majikanmu, tahu! Panggil aku tuan!” seru Sam sambil menampar pipi Ayu sampai gadis itu memekik kesakitan.

Sam semakin beringas melihat tubuh Ayu yang montok telanjang bulat. Kedua paha gadis manis itu terentang lebar mempertontonkan bibir kemaluannya yang jarang-jarang rambutnya. “Diam Sayang! Hari ini aku akan membalas semua sakit hatiku pada ayahmu yang sok alim itu karena besok anak perawannya sudah tidak perawan lagi!”

“Dul lu duluan gih, gua yang rekamin adegannya!”

“Ok bos!” Kata Sam langsung melanjutkan aksinya..

Tanpa basa basi Sam segera membuka pakaiannya sendiri, lalu melompat ke atas meja. Ayu dengan sia-sia meronta dan menjerit saat Sam menindih tubuhnya yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Gadis itu bahkan tidak bisa untuk sekedar merapatkan pahanya yang terkangkang lebar. Pekikannya tertahan sumpalan celana dalam saat Sam meremas buah dada gadis itu dengan kerasnya. Rontaan dan pekikan gadis cantik itu sama sekali tidak digubris. Sam kemudian menempatkan kejantanannya tepat di depan bibir kemaluan Ayu.

“Diam Sayang! Jangan takut, enak sekali kok! Nanti pasti kamu ketagihan. Sekarang biar majikanmu ini ambil perawanmu…” sambil berkata begitu Sam menghujamkan kejantanannya memasuki hangatnya keperawanan Ayu. Sementara Imron mengabadikan moment itu dengan kameraphonenya.

Selaput dara gadis itu terasa sedikit menghalangi, namun bukan tandingan bagi keperkasaan kejantanan Sam yang terus menerobos masuk.

“Haanggkk..! Aahhkk..!” Napas gadis itu terputus-putus dan matanya yang bulat indah terbeliak lebar saat Ayu merasakan perih tiba-tiba menyengat selangkangannya.

Tubuh semok gadis itu tergeliat-geliat merangsang dengan napas tersengal-sengal sambil terpekik tertahan-tahan ketika Sam dengan perkasa menggenjotkan kejantanannya menikmati hangatnya kemaluan perawan Ayu yang terasa begitu peret.

“Aahh… enak sekali tempikmu… aahh… Ayuaaan… enak kan non..? Terus ya non..?” Sam mendesah merasakan nikmatnya mengambil kegadisan anak dari orang yang telah meremehkanya.

Ayu sambil merintih tidak jelas menggelengkan kepala dan meronta berusaha menolak, namun semua usahanya sia-sia, dan gadis itu kembali terpekik dan tersentak karena Sam kini dengan kuat meremasi kedua payudaranya yang kencang menantang. Memang benar kata orang, gadis seperti Ayu memang sangat memuaskan, wajahnya yang cantik, buah dadanya yang tegak menantang bergerak naik turun seirama napasnya yang tersengal-sengal, tubuhnya yang montok telanjang bersimbah keringat, kedua pahanya yang mulus bagai pualam tersentak terkangkang-kangkang, bibir kemaluannya tampak megap-megap dijejali kejantanan Sam  yang begitu besar. Sementara dinding kemaluannya terasa seperti mencucup-cucup tiap kali gadis itu terpekik tertahan. Ayu dengan airmata berlinang merintih memohon ampun, namun tusukan demi tusukan terus menghajar selangkangannya yang semakin perih. Payudaranya yang biasanya tersenggol pun terasa sakit kini diremas-remas tanpa ampun. Belum lagi rasa malu diikat dan ditelanjangi di depan orang yang  dikenalnya merupakan seorang penjaga kolam, lalu diperkosa tanpa dapat berkutik. Rasanya bagai bertahun-tahun Ayu disetubuhi tanpa mampu melawan sedikitpun.

“Hhh..! Ayuaaa..! Ayu..! Sekarang aku bikin kamu hamil, sayangghh..! Aah… ambil non! Nih! Nih! Niih..!” tanpa dapat ditahan lagi Sam menyemburkan spermanya dalam hangatnya kemaluan gadis itu sambil sekuat tenaga meremas kedua payudaranya, membuat Ayu tergeliat-geliat dan terpekik-pekik tertahan sumpalan celana dalam di mulutnya. Kepala gadis itu terasa berputar menyadari ia akan hamil. Perlahan pandangan gadis itu menjadi gelap. Ayu kembali tersadar oleh dengusan napas di depan wajahnya. Sebelum sadar sepenuhnya, sengatan perih di selangkangannya membuat gadis itu terpekik dan meronta. Namun tangan dan kakinya tidak mau bergerak, dan pekikan-pekikannya tidak dapat keluar. Dengan gemas Sam kembali menggenjotkan kejantanannya menikmati keperawanan Ayu. Sam tidak tahan lagi untuk tidak kembali menggagahi gadis itu, memandanginya tergolek telanjang bugil tanpa daya di atas meja yang tersusun rapi. Pahanya yang putih mulus terkangkang seolah mengundang, bibir kemaluannya yang berambut jarang terlihat berbercak merah, tanda gadis itu memang betul-betul masih perawan, tadinya. Kedua payudara gadis itu berdiri tegak menjulang, dengan puting susu yang kemerahan menggemaskan. Sementara wajahnya yang manis dan bau tubuhnya yang harum alami sungguh membuat Sam  lupa diri. Dengan gadis seperti Ayu, ia tidak akan mau tidur sekejap pun, tidak perduli gadis itu suka atau tidak.

“Aah..! Ahk! Angkung (ampun)..! Aguh (aduh).. hakik (sakit).. angkung (ampun)..!” Ayu merintih-rintih tidak jelas dengan mulut tersumpal celana dalam di sela-sela jeritan tertahan.

Tanpa mampu merapatkan pahanya yang terkangkang, gadis itu merasakan kemaluannya semakin perih tiap kali Sam menggerakkan kejantanannya. Tiap detik, tiap genjotan terasa begitu menyakitkan, Ayu berharap kembali pingsan saja agar perkosaan ini segera berlalu, namun tanpa daya ia merasakan bagian bawah tubuhnya terus ditusuk-tusuk benda yang begitu besar.

Sam  semakin giat menggenjotkan kejantanannya dalam hangatnya kemaluan Ayu yang peret dan mencucup-cucup menggiurkan. Daftar budak sex barunya Imron ini memang pintar memuaskan semua cowok belang di atas ranjang. Apalagi kalau nanti diajak tidur beramai-ramai bersama satu atau dua budak sex  yang lain. Membayangkan meniduri dua atau tiga gadis sekaligus membuat Sam semakin bersemangat menyodok kemaluan Ayu, semakin cepat, semakin dalam. Sam  merasakan kejantanannya menyentuh dasar kemaluan gadis itu bila disodokkan dalam-dalam. Ayu sendiri hanya merintih tampak pasrah mempersembahkan kesuciannya pada Sam. Airmata gadis itu tampak berlinang membasahi pipinya yang kemerahan. Tubuh telanjang gadis itu tergelinjang-gelinjang kesakitan tiap kali kejantanan Sam menyodok masuk dalam kemaluannya yang begitu sempit. Dengan menggeram seperti macan menerkam mangsa, Sam dengan nikmat menyemburkan sperma dalam kehangatan tubuh Ayu yang terpekik tertahan-tahan. Hampir dua jam Sam dengan perkasanya memperkosa Ayu, setidaknya lima kali gadis itu disetubuhi tanpa daya. Entah berapa kali ia pingsan ketika Sam mencapai puncak, hanya untuk tersadar ketika tubuhnya kembali dinikmati dengan buasnya. Selangkangan gadis itu terasa perih dan panas, seperti ditusuk-tusuk besi yang merah membara. Payudaranya serasa lecet diremas habis-habisan, terkena semilir angin pun perih. Punggung gadis itu perih tergores kuku Sam. Namun siksaan tanpa belas kasihan itu tidak kunjung usai, bagai tidak mengenal lelah kejantanan Sam terus bertubi-tubi menusuk dalam-dalam, kedua tangannya seperti capit kepiting terus mencengkeram buah dada Ayu. Sementara gadis itu dengan tangan dan kaki terikat erat tidak mampu berkutik, apalagi menghindar atau mencegah. Bahkan menjerit pun ia tidak mampu, tenaganya sudah habis dan sumpalan celana dalamnya sendiri membuat pekikannya hanya seperti erangan. Bagai berabad-abad Ayu dibuat bulan-bulanan tanpa daya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s