Pevita ohhh Part 2

Posted: May 7, 2011 in art
Tags:

“Slep.. slep.. sslleek!”, begitulah bunyi decakkan pertemuan kedua kelamin mereka

Sam benar-benar meresapi sensasi luar biasa akibat jepitan selaput dara Pevita dan akhirnya perlahan tapi pasti penis pria itu telah menembus pula sampai mentok ke dasar liang kewanitaan Pevita. Bagi Sam tak ada satu kenikmatan apapun di dunia yang mampu menandingi ataupun menyamai dari nikmatnya momen-momen merenggut keperawanan seorang gadis. Seperti biasa, ia memberi waktu dulu pada setiap wanita yang ditidurinya agar dapat menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan penisnya agar si wanita juga menikmatinya. Kini seiring dengan pergerakan penis pria itu yang telah keluar sepertiga dari ukuran batangnya dari vagina Pevita yang merekah membuat bibir-bibir vaginanya menjadi ikut tertarik. Penis itu tampak berkilat-kilat basah oleh lendir yang melumasinya dan tampak pula pada vagina itu mulai menetes darah segar kesuciannya yang pada baru saja direnggut. Tubuh telanjang Pevita mengikuti hempasan-hempasan yang dilakukan oleh Sam pada vaginanya. Pria tambun itu paling suka bila korbannya telah bertekuk lutut padanya kini sehingga ia semakin gencar memacu tubuhnya.

“Ohh.. Dik.. nikmat sekali…memekmu…begitu sempit” Sam terus mengocok vagina Pevita dan temanku itu pun semakin menikmatinya, berangsur-angsur hilanglah rasa pedih dihatinya digantikan dengan kenikmatan yang tiada taranya, mulut gadis itu mulai meracau mengeluarkan desahan nikmat.

“Akhh.. Sam.. Aduuh.. ohh..” desah Pevita

Pevita mengimbangi genjotan itu dengan menggelora sampai akhirnya kembali tubuhnya mengejang dan sambil memeluk erat tubuh gemuk Sam ia kembali menyemprotkan cairan orgasme yang mengucur tanpa tertahan lagi. Ia orgasme untuk yang kedua kalinya, orgasme lebih dahsyat dari yang pertama tadi sampai tubuhnya menggelinjang hebat.

Selama beberapa saat Sam menghentikan gerakannya dan memeluk erat tubuh Pevita sambil melumat bibirnya lembut. Pevita tak bisa menyangkal bahwa dirinya benar-benar menikmati orgasme yang kedua ini, matanya terpejam sambil melingkarkan kedua kakinya ke pinggang pria itu. Tak lama kemudian pria itu mencabut penisnya yang masih mengacung kokoh dari vagina Pevita. Entah mengapa Pevita merasa ada sesuatu yang hilang dari tubuhnya. Perlahan ia bergerak ke samping dan membalikan tubuh gadis itu yang tak berdaya dan hanya menurut saja. Kali ini ia mengambil posisi di belakang dan mengangkat pinggul Pevita hingga nungging. Tanpa buang waktu lagi, mulailah ia menekan masuk penisnya ke vagina Pevita. Lendir yang telah membasahi selangkangannya mempermudah masuknya penis Sam kembali menancap di vaginanya. Setelah masuk, ia pun bergerak sambil kedua tangannya meremas payudara gadis itu dari belakang dan menghela pantatnya menghantam liang vaginanya. Gesekan demi gesekan semakin nikmat menyentuh kulit halus liang vagina Pevita, tangan gadis itu mencengkram erat seprei tempat tidur yang telah kusut.

“Ohh.. Dik Pevita.. sayang…asyiknya ngentotin…kamu…mmmhh!!” ceracau Sam

Pria itu memang benar-benar hebat, ia bisa bertahan lama menggauli temanku itu dengan berbagai posisi, sementara Pevita juga semakin berserah diri pada nafsu binatang pria itu. Setelah sepermpat jam, Sam berganti posisi, ia menaikkan tubuh Pevita ke pangkuannya sambil mendekap dengan posisi memunggungi. Ia mencumbu leher Pevita yang mulai sudah basah dengan keringat yang keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya. Jenggot pria itu menyapu-nyapu kulit leher Pevita memberikan sensasi geli padanya. Sementara tangan pria itu terus saja ia menggerayangi kedua payudara gadis itu. Penis Sam menghujam telak ke liang senggama Pevita yang mendudukinya. Kocokan demi kocokan yang semakin gencar menggesek dinding vagina gadis itu. Pevita pun melepaskan seluruh hasratnya tanpa bisa ia kendalikan lagi, ia tak mempedulikan lagi siapa laki-laki yang menyetubuhinya karena tubuhnya menuntut kepuasan. Lama posisi duduk itu berlangsung sampai akhirnya tubuh Sam semakin gencar menyodok vaginanya, gerakan pria itu semakin cepat. Sam lalu menghempaskan tubuhku kembali terlentang di ranjang. Tubuh tambun itu mengejang dan memeluk rapat tubuh Pevita sampai gadis itu sulit bernafas. Tak lama kemudian semburan hangat dengan kencang menerpa vagina Pevita.

“Akhh…enak Dik!!” Sam mengerang panjang sambil menekan pantatnya ke bawah dengan keras

Pevita merespon dengan mencengkram dan kembali melingkarkan kakinya ke pinggangnya dan ia pun melepaskan sisa orgasme yang masih tersisa di tubuhnya.

Untuk orgasme kali ini mereka mencapainya dalam waktu hampir bersamaan, akhirnya dengan terkulai lemah tubuh Sam roboh menindih Pevita yang juga sudah lemas. Lama mereka terdiam merasakan sisa kenikmatan itu hingga akhirnya Sam mulai beringsut menjauhi Pevita.

“Kamu hebat…saya jamin karir kamu ke depan pasti baik” setengah sadar dan tidak Pevita mendengar pria itu membisikan kata-kata tersebut sambil mengecup keningnya. Selanjutnya, Pevita tidak tahu apapun karena ia tertidur karena lelah dan kantuk yang menyerangnya. Jam sembilan pagi Pevita baru terbangun dari tidurnya, tubuhnya serasa hancur dan letih sekali. Sperma kering berceceran membasahi tubuhnya dan sprei di bawahnya, pada sprei itu juga tampak noda merah darah yang tidak lain adalah darah keperawanannya yang tadi malam terenggut. Ia tidak menemukan Sam di kamar ini, entah kemana dia. Dengan agak terhuyung-huyung karena selangkangannya masih terasa nyeri, ia berjalan menuju kamar mandi membersihkan dirinya. Guyuran air hangat membuat tubuhnya sedikit lebih segar. Ia mendapati vaginanya memerah dan bekas cupangan nampak di sekujur tubuhnya terutama payudara dan leher. Cukup lama ia berada di kamar mandi berendam di bathtub sambil termenung memikirkan kejadian semalam. Ia mengutuk dirinya sendiri dan sangat menyesal dengan hal itu. Bangsat benar pria yang selama ini ia hormati itu, ia telah menodai kesuciannya dan menjerumuskannya ke lembah nista seperti ini. Yang lebih disesalkannya lagi, dirinya juga menikmati perkosaan itu. Ia mengakui keperkasaan Sam yang telah membuatnya seperti melayang tinggi kemarin itu. Setelah setengah jam lebih barulah ia keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk pada tubuhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s