Samdy Aulia PArt 2

Posted: June 19, 2011 in art
Tags:

Ketika tanganku menggosok klitorisnya, tubuh Shandy bergetar pelan, sementara itu batang kejantananku seperti akan meledak menahan tekanan yang demikian besarnya. Aku lalu mendorong jari-jariku untuk masuk lebih jauh perlahan-lahan, lalu menariknya keluar, lalu mendorongnya masuk kembali, begitu seterusnya dan semakin lama semakin cepat. Rintihan Shandy makin keras, ia bahkan mengalungkan kedua lengannya ke leherku, menarik wajahku mendekat dan melumat bibirku dengan buas.

Batang kejantananku sudah membengkak maksimal  dan tak tahan lagi, maka aku segera berdiri dan kulucuti bajuku hingga tinggal tersisa celana dalam saja. Dan ketika kutanggalkan celana dalamku, sekilas aku melihat Shandy mendelik bahkan melotot melihat batang penisku yang sudah berdiri tegak. Entah apa yang ada dipikirannya, mungkin takjub melihat penisku yang hitam dengan kepala yang membulat keunguan. Ukurannya sebenarnya nggak gede-gede amat, cuman 13 cm kok, tapi diameternya emang tebel dan dilingkari urat yang gede-gede.

Setelah aku telanjang bulat, pelan-pelan tubuh Shandy kurebahkan ke atas ranjang dan tanpa ragu lagi kupelorotkan celana dalam Shandy tanpa perlawanan, bahkan ia sedikit menaikkan pantatnya untuk membantuku meloloskan celana dalamnya. Pemandangan indah langsung terpampang didepanku. Vagina gadis belia yang masih rapat, belahannya yang tipis ditumbuhi rambut halus yang masih jarang. Bukitnya yang besar putih sekali. Dan ketika kutekuk lutut Shandy lalu kubuka kakinya, tampak bibir kemaluannya masih bersih dan sedikit kemerahan warnanya.

Segera saja aku menindih dan mencumbuinya sambil  kutuntun batang kejantananku ke arah liang kewanitaan Shandy. Liang vaginanya yang telah kebanjiran seharusnya memudahkan batang penisku menyelinap ke dalam. Kusodok pelan-pelan tapi tidak mau masuk-masuk, aku sodok lagi terus hingga dia pun merintih rintih, “Ahh…, aahh…”,

Akhirnya aku rasakan kepala penisku menerobos belahan vaginanya, tapi baru kepalanya saja rintihan Shandy sudah berubah jadi jeritan tertahan, tapi aku sudah tidak peduli lagi. Sedikit-sedikit kudorong maju, mundur sedikit, maju lagi, mundur, maju, mundur. Lalu dengan satu hentakan yang keras aku sodok kuat-kuat hingga aku rasakan batang penisku amblas hampir seluruhnya kedalam liang vagina Shandy. Jeritan Shandy pun tak tertahankan.

“Baanngg! Saakiiitt!”

Shandy pun meronta berusaha mengeluarkan penisku dari dalam vaginanya. Namun aku segera menindih tubuhnya dan memegang kedua tangannya, hingga ia tak berkutik. Aku berusaha menenangkannya  dan berkata “Tahann.. Non… cuman sebentar kok…”

Aku menikmati jepitan vaginanya yang keras sekali, batang penisku seperti diremas-remas rasanya di dalam kewanitaannya. Aku lalu melumat bibir indah Shandy untuk meredam rintihan yang keluar. Sejenak yang terdengar dalam ruangan itupun hanya erangan dan rintihan yang tersumbat.

“Non, Abang genjot yah” kataku kemudian.

Shandy hanya mengangguk, lalu aku pun mulai “bekerja”, penisku kutarik pelan-pelan  lalu majukan lagi tarik lagi, majukan lagi.

Shandy pun mengernyit kesakitan, dan mendesis keras, “Aahh…, ahh…, ahhkkhh…”

Penisku yang bergerak keluar masuk liang vaginannya itu dengan perlahan, terasa sangat nikmat sekali seakan-akan aku lagi berada di suatu tempat yang dinamakan surga.

“Enak non?”, kataku. Dia cuma mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, “Aahh…, aahh…”

Akupun menambah daya dobrakku dan kini menggenjotnya dengan brutal. Erangan Shandy pun berubah jadi jeritan.

“Maanng! pelan-pelan! Sakiit” erangnya

Tapi aku kurang menghiraukan jeritannya. Kenikmatan yang tak ada duanya telah merasuki tubuhku. Dengan tetap menjaga irama permainanku maju-mundur dengan perlahan. Menikmati setiap gesekan demi gesekan. Liang vagina itu sempit sekali hingga setiap berdenyut membuatku melayang. Denyutan demi denyutan membuatku semakin tak mampu lagi menahan luapan gelora persetubuhan. Terasa beberapa kali Shandy mengejankan liang vaginanya, mungkin menahan rasa sakit dari serbuan benda asing yang bergerak keluar masuk dengan buas itu, tapi bagiku malah memabukkan karena liang vaginanya jadi semakin keras menjepit batang kejantananku.

Erangan, rintihan, dan jeritan Shandy terus menggema memenuhi ruangan. Rupanya ia pun menikmati setiap gerakan batang kejantananku. Rintihannya mengeras setiap kali penisku melaju cepat ke dasar liang vaginanya, dan mengerang lirih ketika kutarik batang kejantananku. Beberapa menit kemudian aku mencabut penisku dan menyuruh Shandy untuk berbaring miring. Aku lalu ikut berbaring miring dibelakangnya dan mengarahkan penisku dari belakang dan  batang penisku kembali mengocok vaginanya yang kini terasa licin akibat cairan pelumasnya yang semakin membanjir keluar.  Penisku keluar masuk perlahan-lahan namun semakin lama gerakanku semakin liar, kupercepat kocokanku  hingga tubuhnya terguncang-guncang akibat sodokanku. Sesekali kuputar-putar gerakan pinggulku seolah-olah sedang mengaduk-ngaduk isi vagina Shandy.

Aku melihat mulutnya terbuka disertai erangan tertahan “Errghhh….” Tubuhnya meliuk-liuk binal menyambut gerakanku. Hingga sekitar 10 menit kemudian Shandy melengking panjang  dan tubuhnya bergetar hebat, dan kurasakan air hangat menyempot keluar dari dalam vagina Shandy. Denyutan-denyutan yang kuat memberikan sensasi tersendiri pada kemaluanku yang masih asik keluar masuk dengan kasar didalam lubang vagina hangat milik Shandy, hingga akhirnya aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku meremas payudaranya dengan keras hingga Shandy menjerit pelan, dan meledaklah cairan spermaku didalam liang vaginanya. Batang kejantananku menghujam keras, dan kandas di dasar jurang, sebuah kenikmatan tanpa cela, sempurna.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s