lyra 1

Posted: June 21, 2011 in art
Tags:

Ketika keluar dari kamar mandi, Lyra mendapatkan Sam sudah berada dalam kamar tidurnya.Sam dengan santai sedang melepaskan bajunya satu persatu.Lyra berusaha keluar dari kamar tidurnya tetapi pintu telah terkunci, dan anak kuncinya tidak berada pada tempatnya.

“Mau lari ke mana,Ha?” tanya Sam dengan santai sambil terus melepaskan pakaiannya sendiri. Setelah melepaskan seluruh pakaiannya dan dalam keadaan telanjang bulat, Sam dengan santai duduk di sisi ranjang yang biasa di pakai Lyra dan suaminya tidur. Wajah Lyra tidak dapat menyembunyikan kengeriannya melihat Sam yang sudah telanjang bulat sambil secara perlahan-lahan dan gemetar bergeser menjauhi pintu. Lyra memperhatikan tubuh telanjang Sam, wajah yang dihiasi brewok yang lebat dapat dikatakan jauh dari tampan, tubuhnya yang gempal, berperut agak gendut dan berkulit hitam seperti orang Papua pada umumnya, bulu lebat tumbuh hampir di sekujur tubuhnya.

“BUKA BAJUNYA!” perintah Sam memecah suasana membuat Lyra kaget. Lyra yang dalam keadaan kengerian luar biasa hanya terdiam gemetar.

Di tengah kengeriannya itu, Sam menghampiri Lyra. Tanpa banyak bicara, ia mencekal daster Lyra kemudian dengan sekali hentak daster Lyra robek menjadi beberapa bagian, sehingga kini Lyra hanya mengenakan BH dan celana dalam saja.

“Jangan sampai gue ngomong tiga kali, BUKA BAJUNYA!” bentak Sam tidak sabar, kemudian dia kembali duduk di ranjang.

Lyra tidak punya pilihan lain, dengan gemetar kedua tangannya bergerak perlahan ke belakang punggungnya berusaha untuk meraih kait BH yang terdapat di belakang punggungnya. Kemudian kedua tanganya mulai meloloskan tali BH dari kedua pundaknya yang mulus, lalu perlahan BH biru muda yang berukuran 34C itu merosot dari tempatnya. Seketika sepasang payudara yang putih mulus mencuat telanjang, payudara yang sangat indah, bulat padat dan kenyal dengan puting berwarna coklat muda segar. Lyra membungkuk dan tangannya gemetaran melepas lembaran terakhir yang melekat di tubuhnya,lalu kedua jari-jarinya bergerak secara perlahan ke samping kiri dan kanan pinggulnya, jari-jarinya diselipkan disamping Cd yang berwarna senada dengan BHnya. Kemudian secara perlahan memelorotkan ke bawah. Pemandangan erotik itu membuat birahi Sam yang selama ini tertahan mulai bangkit kembali. Kini Lyra sudah bediri telanjang bulat tanpa sehelai benangpun kecuali cincin perkawinan yang melingkar di jarinya. Dengan kedua belah tangannya Lyra berusaha untuk menutupi bagian-bagian vital dari tubuhnya. Dia berusaha menutupi ketelanjangannya di hadapan penjahat itu. Sam  yang sudah telanjang bulat bangkit dari ranjang tempat duduknya dan bergerak mendekat ke arah Lyra yang berdiri telanjang. Lyra menggeser mundur tubuhnya sambil terus menutupi tubuhnya, sampai akhirnya ia terdesak diujung kamar. Lyra memandang ngeri pada penis Sam yang sudah berdiri tegang ke atas, panjang dan diameternya melebihi milik Obenk, bewarna hitam pekat dan dipenuhi dengan urat-urat yang menonjol. Lyra tahu dia akan diperkosa oleh penjahat ini, Lyra tidak dapat membayangkan benda sebesar dan sepanjang itu masuk ke dalam liang kewanitaannya. Sam kini sudah di hadapan Lyra, kedua tangannya yang kekar menyingkirkan tangan Lyra yang digunakan untuk menutup ketelanjangannya. Sesaat Sam menikmati kemolekan tubuh telanjang Lyra yang ada di hadapannya. Wajah oriental yang cantik dihiasi dengan rambut panjang sebahu, payudara yang kencang dan montok, perut yang rata tanpa lipatan, pinggang  yang lansing. Kemudian perhatian Sam tertuju  ke bagian  kewanitaan Lyra yang dihiasi bulu kemaluan yang lebat. Setelah puas memandangi tubuh Lyra, Sam mendekat lebih rapat.

“Jangan .. Jangan Bang..” Lyra merintih ketakutan, dari sudut matanya mulai menetes air mata. “Ambil saja uang saya, tapi jangan perkosa saya..”

Permohonan Lyra agar Sam menghentikan niatnya agaknya tidak membuatnya tergerak, malah membuatnya semakin bernafsu.

“Sekarang gue lagi ga butuh duit! Gue cuma minta elu ngelayani gue. Gue sudah lama ga ngerasain cewek.”

“Jangan bang…….jangan……….jagan sakiti saya…….,”Lyra memohon dan mulai menangis ketakutan.

“Jangan nangis!Gue ga bakalan nyakitin elu,” kata Sam.”Asal elu menurut apa yang gue suruh, gue bakalan muasin elu,”sambungnya.”Malah mungkin elu yang ntar ketagihan,” kata Sam setengah berbisik kepada Lyra.

Tangan kekar Sam mulai meremasi payudara Lyra, sementara tangannya yang lainnya mulai mengelus-elus paha Lyra yang putih mulus. Sam kemudian berjalan memutari tubuh Lyra dan memeluknya dari belakang. Sam menyibakkan rambut Lyra sehingga bagian punggung sampai ke tengkuknya bebas tanpa penghalang. Lalu bibirnya yang tebal menjatuhkan ciumannya ke tengkuk Lyra. Lidahnya menjelajah di sekitar leher, tengkuk kemudian naik ke kuping dan menggelitik di sana. Kedua tangannya yang kekar dan berbulu mulai merayap naik dan mulai meremas-remas kedua belah payudara Lyra yang montok dengan gemas. Kemudian  tangannya yang lain mulai merayap ke bagian selangkangannya. Jari-jari besar itu mulai bergerak perlahan-lahan diantara kerimbunan bulu-bulu kemaluan Lyra. Perasaan tidak berdaya begitu menyelubungi Lyra, karena hampir semua daerah sensitifnya diserang oleh Sam. Dengan sapuan lidahnya pada tengkuk, remasan tangannya pada payudara, dan permainan jarinya pada vagina, serangan-serangan itu sungguh membuat Lyra terbuai. Tetapi Lyra berusaha dengan keras untuk tidak menikmatinya, dan memilih bersikap diam.

Sam rupanya tidak begitu suka Lyra bersikap pasif, Sam bergerak kembali ke hadapan Lyra. Sam lalu mencium pipi Lyra, antara geli dan jijik Lyra memajamkan mata. Lalu Sam mulai menelusuri bibir Lyra yang merah dan mulai melumatnya dengan gerakan lembut. Sam terus berusaha mendesakkan bibirnya mengulum bibir Lyra, lidahnya mencoba menerobos masuk ke mulut Lyra, sementara tangannya juga bergerilya meraba-raba dan meremas payudara Lyra. Lyra menggelinjang mendapat perlakuan itu. Sambil bibirnya terus mengulum bibir Lyra, tangan Sam juga memelintir-melintir puting payudara Lyra dengan gerakan kasar. Lyra meringis kesakitan tapi perlahan perlakuan Sam justru menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya, tubuh Lyra menegang saat sensasi itu melandanya, tanpa sadar Lyra mulai mendesah. Sam kembali menggerayangi vaginanya. Sam menggesek-gesekkan jarinya di bibir vagina Lyra, sementara mulutnya sibuk menciumi dan menjilati payudara Lyra dan tangannya yang lain membelai-belai perut Lyra yang rata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s