new Pevita Part 2

Posted: June 21, 2011 in art
Tags:

Pevita pun tak berdaya merasakan pedih karena Sam terus menampari kedua susunya. Gumpalan daging Pevita yang tadinya begitu putih mulus kini berubah menjadi kemerah-merahan bekas tamparan dari Sam. Sam mencupangi leher, lengan, dan belahan dada serta perut Pevita karena pria tua itu ingin membuat tanda di sekujur tubuh indah Pevita. Ketiak Pevita pun tak luput dari Sam. Ketika ketiaknya diciumi dan dijilati, Pevita pun menggeliat-geliat kegelian. Karena harum, Sam pun jadi betah di daerah itu sehingga membuat Pevita tersiksa dalam rasa geli. Ketiak Pevita pun basah kuyup karena air liur Sam.

“hehe..geli ya neng ?”, ledek Sam melihat Pevita yang uget-uget dari tadi. Sam merasa cukup bermain dengan tubuh bagian atas Pevita, saatnya berpindah konsentrasi ke bagian bawahnya. Bagian tubuh Pevita yang paling membuat Sam penasaran. Gunting yang dipegang Sam pun bergerak mendekati daerah Pevita yang paling pribadi.

“kres kres kres…”. Dengan sangat hati-hati, Sam mengguntingi celana Pevita yang sudah terbelah menjadi 2 sisi untuk menghilangkan sisa kain yang masih menutupi selangkangan Pevita.

Akhirnya daerah kewanitaan Pevita pun tak tertutup kecuali cd yang masih setia melekat. Satu-satunya kain yang memisahkan Sam dengan ‘surga dunia’ yang ada di tengah-tengah selangkangan Pevita yang putih mulus itu. Tak sabar ingin melihat ‘hadiah’nya, Sam langsung menggunting pinggir kanan dan kiri cd Pevita. Bagian tengah cdnya kini sudah terputus sehingga Sam mudah melipat ke bawah.

“waahh…”, pandangan mata Sam semakin berapi-api, nafasnya semakin memburu melihat lembah kenikmatan milik Pevita. Tak pernah terbayang di pikiran Sam bisa melihat vagina seindah ini. Bentuk alat kelamin yang begitu indah, bibir vagina Pevita terlihat begitu rapat, kulit di sekitarnya pun berwarna putih mulus, warna belahan bibir vaginanya seperti warna merah muda, dan sama sekali tak ada bulu yang menghiasi kelaminnya, benar-benar bersih dan sangat mulus. Belum lagi, semerbak aroma harum yang tercium oleh Sam. Sam tersenyum penuh arti memandangi tengah-tengah selangkangan Pevita. Sam tersenyum karena vagina Pevita yang menggiurkan dan sangat menggugah selera itu hanya untuk dirinya seorang. Tak akan ada orang lain yang bisa mengganggunya untuk mendapatkan kenikmatan sebanyak-banyaknya bahkan si pemilik vagina pun tak bisa mengganggu Sam karena sudah terikat kuat ke ranjang.

Sam langsung membenamkan wajahnya ke selangkangan Pevita, menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup aroma harum dari vagina Pevita sebanyak-banyaknya. Tubuh Pevita langsung gemetar saat lidah Sam mulai melakukan kontak fisik.

“mmffhh…”, hanya itu yang keluar dari mulut Pevita seiring tubuhnya yang berkedut-kedut. Sam asik menyapu belahan bibir vagina Pevita dari bawah ke atas lalu kembali ke bawah dan seterusnya. Tonjolan sensitif Pevita pun disentil-sentil Sam dengan lidahnya membuat Pevita semakin menggeliat-geliat. Lidah Sam begitu lincah menari-nari di daerah kewanitaan Pevita. Sam pun mencicipi sedikit cairan yang meleleh keluar dari celah sempit milik Pevita itu.

“ayo neng…keluarin lagi dong…enak banget…”, komentar Sam sebelum mulai menyerbu vagina Pevita dengan lebih ganas. Pevita hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tubuhnya berkedut-kedut merasakan kenikmatan yang luar biasa yang berasal dari vaginanya. Sam semakin buas menggerogoti vagina Pevita, melahap vagina indah itu bagai tak ada hari esok. Tanpa diketahui Sam, Pevita sebenarnya sangat menikmati ketidak-berdayaannya untuk melindungi daerah yang paling intim dari tubuhnya. Pevita sangat suka jika merasa tak berdaya di hadapan pria, Pevita akan mematuhi semua perintah pria yang menjadi teman sexnya meski kadang membuatnya tersiksa. Tapi, semakin tersiksa, Pevita akan semakin bergairah. Tubuh Pevita menegang, perutnya sedikit terangkat ke atas, Sam langsung memasang mulutnya.

“ssrrppphh..ssllrrrppp…”. Sekejap saja, cairan vagina Pevita langsung habis. Sam membuka bibir vagina Pevita dengan kedua jari telunjuknya dan langsung menggali bagian dalam vagina Pevita dengan lidahnya.

Mengais-ngais dan menyedot sisa-sisa cairan yang tersisa di sela-sela bibir vagina Pevita. Memang, sudah sewajarnya Sam begitu rakus menguras vagina Pevita karena rasa vagina Pevita sangat gurih dan ada sedikit rasa manis bahkan Sam sedang berusaha ‘menimba’ vagina Pevita lagi. Sesekali Sam menjilati dan menciumi selangkangan Pevita yang begitu harum.

“hei ! senangnya dalam hati, aku beristri dua, serasa dunia, ana yang funya !!”, Sam pun terpaksa bangun dan mencari hpnya setelah mendengar ringtonenya.

“siape sih ah..ganggu orang aje..gak tau ape..lagi enak-enaknye makan memek…”, Sam ngedumel.

“sialan tuh Jali..lagi enak-enaknye disuruh ke sono lagi..”. Sam pun keluar kamar, tak lama kemudian Sam kembali. Sambil tersenyum, Sam meremas kencang biskuit yang dipegangnya.

“neng Pevita…Abang pergi bentar yaa..”, ujar Sam sambil menabur remah-remah biskuit ke selangkangan Pevita yang sudah basah kuyup oleh air liur Sam.

“ati-ati neng..disini banyak tikus ama semut…hehe..”. Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Sam keluar kamar. Pevita tak bisa berbuat apa-apa untuk membersihkan vaginanya yang penuh dengan remah-remah biskuit karena kedua kaki dan tangannya masih terikat ke ranjang. Pevita dag dig dug sekali, dia berharap Sam segera pulang sebelum tikus, semut, kecoa, atau hewan-hewan kecil lain ‘menyatroni’ dan masuk ke dalam vaginanya. Tapi, tetap saja Pevita merasa ‘panas’ apalagi saat memikirkan kalau dia sama sekali tak mampu melindungi daerah paling intim dari tubuhnya bahkan dari hewan kecil sekalipun. Rasa pegal terasa di mulut, kaki, dan tangan gadis mungil itu.

“cklek…”. Rasa lega dirasakan Pevita saat Sam masuk ke kamar.

“alo neng Pevita…gimana ? memeknya gak apa-apa kan ? hehe..”. Sam mendekati dan melihat daerah segitiga Pevita yang masih penuh dengan remah-remah biskuit.

“wah masih ada biskuitnya ya, neng ? kalo gitu Abang aja yang makan…hehe”, Sam langsung mengambil posisi untuk ‘menyantap’ alat kelamin Pevita lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s