asty 4

Posted: June 27, 2011 in art
Tags:

“Iya Sam…iya…aahh…seneng banget, tolong puasin saya!” ceracau Asty membuang segala perasaan malu dan batasan-batasan itu seperti yang dikatakan Sam tadi.

“Non mau kan saya apain aja? Non mau jadi budak seks?” tanya Sam lagi tanpa menghentikan genjotannya.

“Iya…aahh…terserah Sam aja!” erang gadis itu semakin tak bisa menahan nikmatnya.

Panas juga wajah dan telinga Asty karena terus-terusan diejek begitu, terlebih ia tak bisa membantah apapun. Sam tertawa penuh kemenangan dan mempergencar genjotannya. Tubuh gadis itu tersentak-sentak dan makin terdesak ke pagar, payudaranya yang montok itu kini tertekan pada pagar kawat. Tidak seorangpun yang sedang lalu-lalang di bawah gedung atau jalan menyadari sedang terjadi adegan panas di ketinggian itu karena terlalu tinggi dan tidak terlihat, namun bagi kedua insan yang sedang berasyik-masyuk itu, setiap momen menjadi sensasi tersendiri. Desahan gadis itu semakin menjadi ketika gelombang orgasme itu kembali menerpanya, tubuhnya menggelinjang dahsyat seakan melepaskan segala nikmat yang tadi tertunda. Akhirnya ia mendesah panjang dan seluruh otot-otot tubuhnya mengejang, yang datang kali ini adalah multiorgasme sehingga tubuhnya berkelejotan tak terkendali, sungguh luar biasa seperti melayang ke surga saja rasanya, dari pengalaman seks selama dua tahun dengan kekasihnya saja belum pernah mengalami yang seperti ini. Matanya merem-melek dan pandangannya seperti berkunang-kunang selama terhempas gelombang orgasme itu, sensasi itu berlangsung selama 2-3 menit lamanya hingga akhirnya tubuhnya melemas seperti tak bertulang, kalau saja Sam tidak mendekapnya mungkin ia sudah ambruk ke tanah.

 

Saat itu Sam belum mencapai klimaks, ia melanjutkan hujaman-hujamannya terhadap liang vagina gadis itu. Lima menit kemudian barulah penisnya menumpahkan lahar panas di dalam vagina Asty.

“Uuggghh…asyiknya!” lenguh Sam sambil menekan dalam-dalam penisnya yang menyemburkan sperma.

Penis Sam masih menyodok vaginanya namun kecepatannya kian menurun. Di paha dalam Asty nampak cairan kewanitaannya yang bercampur dengan sperma pria itu meleleh keluar dari selangkangannya. Setelah genjotan Sam berhenti, ia mendekap tubuh gadis itu dan mundur beberapa langkah lalu menjatuhkan pantatnya pada sebuah tembok pembatas. Dipangkunya tubuh gadis itu dengan penis masih menancap di vaginanya walau sudah mulai kendor karena mulai menyusut. Sam memeluknya sambil memijat pelan payudaranya. Asty merasakan betapa banyak cairan orgasme yang keluar dan sperma Sam yang tertumpah di dalam sana hingga sebagian meleleh keluar dan terasa basah. Perlahan-lahan penis Sam mulai melembek dan akhirnya ia menurunkan gadis itu dari pangkuannya. Asty merasa dirinya begitu menjijikan, apa yang dilakukannya barusan benar-benar seperti perempuan murahan yang haus seks, tapi toh segalanya sudah telanjur dan ia menikmatinya, apakah ini yang disebut guilty pleasure? Ia termenung dengan mata menatap langit biru seolah sedang menunggu jawaban dari atas sana.

“Ini Non pakaiannya, jangan bengong aja ntar masuk angin!” Sam yang telah memakai kembali celananya menyodorkan pakaiannya yang telah dia pungut.

Asty tersadar dari lamunannya dan buru-buru menerima pakaiannya, ia mulai merasakan terpaan angin di itu membuatnya menggigil.

 

“Eh…Sam? Mana celana dalam saya, BH-nya juga kok hilang?” tanya gadis itu kebingungan karena tidak menemukan pakaian dalamnya.

“Saya pegang dulu ya Non, supaya kita bisa ketemu lagi.” Sam mengeluarkan kedua pakaian dalam itu dari sakunya sambil tersenyum lebar.

“Apa?! Cukup sampai sini Sam! Ini sudah kelewatan!” kata Asty agak membentak.

“Weiss…weis…jangan marah gitu Non, tapi kalau cantik biar marah juga tambah cantik” Sam memegang dagu gadis itu dan menatapnya, “kita kan sama-sama menikmati Non, termasuk pacar Non juga, ingat yang saya bilang tadi lupakan batasan-batasan norma supaya bisa menikmati sepenuhnya, lepaskan hasrat liar Non sebebas-bebasnya”

Asty memandang kesal padanya, ia mau tak mau harus menuruti keinginan bejat si penjaga kampus ini, namun diakui atau tidak sebenarnya ia masih ingin diperlakukan seperti budak seks olehnya.

“Gimana kalau besok sore kita bertemu lagi Non? Saya punya sesuatu yang lebih seru untuk Non” tanyanya

“Nggak…ga bisa, besok saya ada urusan”

“Kalau lusa bagaimana?”

“Mmmm…iya, tapi…tolong rahasiakan semua ini Sam, saya mohon” pintanya memelas.

“Saya tunggu Non di ruang multimedia gedung kuliah bersama, jam enaman aja, udah sepi” kata Sam membalik badan dan mengelus pantat gadis itu, “Oke, saya duluan, supaya ga ada yang curiga, kalau turun nanti jangan lupa tutup pintunya yah Non” sambungnya memperingati sambil berjalan menjauh.

Akhirnya tanpa mengenakan dalaman, Asty memakai kembali kemeja dan roknya serta segera merapikan diri.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s