Tsania PArt 1

Posted: July 1, 2011 in art
Tags:

Tsania mulai khawatir karena Sam menggiringnya makin masuk ke tengah pepohonan rindang dan sudah cukup jauh dari jalan utama. Gadis itu mulai merasa seakan-akan dia sedang memasuki satu jebakan.

Akhirnya Tsania menyerah, “Saya telpon Mas Dodit aja deh, Sam… hari sudah terlalu malam, saya takut…”

Belum sempat Tsania melanjutkan kata-katanya, Sam dengan sigap menubruk gadis itu! Tsania menjerit ketakutan karena tiba-tiba disergap Sam yang bertubuh besar, ia ambruk ke tanah dan HP yang sedari tadi ia bawa terlempar jauh.

“SAM! APA-APAAN INI?!” Tsania mencoba menyadarkan pria tua yang sudah lupa diri itu, tapi Sam sudah berubah menjadi setan dengan hawa nafsu tak terkendalikan. Bagaimanapun Tsania mencoba meronta dan melawan, Sam tetap tak bergeming. Dengusan nafas Sam yang berat membuat Tsania makin panik, ia tahu apa yang diinginkan Sam saat ini, ia tahu pasti dari dengusan nafas penuh nafsu itu. “LEPASKAN SAYA!! LEPASKAAAAN!!”

Jeritan, pukulan, cengkraman, semua upaya silih berganti dilakukan oleh Tsania yang terus meronta dalam pelukan lelaki tua berotak mesum itu. Sayangnya Sam adalah seorang preman yang sangat kuat, semua perlawanan Tsania malah membuat pria tua itu semakin terangsang, makin Tsania melawan, makin ingin rasanya Sam menaklukkan si cantik ini. Setelah si jelita itu takluk nanti, Sam akan menidurinya tanpa ampun!

Cukup lama dua sosok manusia itu bergumul di tanah, Sam yang mulai merasa jengkel akhirnya mengeluarkan pisau lipat dari dalam kantong celananya dengan susah payah dan menempelkannya di leher Tsania.

“Kalau begini terus, kita berdua yang akan rugi dan kelelahan, Non Tsania.” bisik Sam sambil menekan leher Tsania dengan pisau dan mengancamnya. Tsania yang menyadari adanya sebilah pisau yang siap menggorok lehernya akhirnya menghentikan semua aksi perlawanan.

Dengan senyum kemenangan dan terkekeh pelan, Sam mengelus pipi Tsania. “Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah ingin mencicipimu, gadis mtsania.”

“Dasar lelaki tua busuk! Bajingan! Laknat! Lepaskan aku sebelum…”

JLEB!

Sam menancapkan pisau tepat di sebelah kepala Tsania dengan penuh kemarahan, gadis itu langsung lemas dan menggigil ketakutan. Mata Tsania mulai berkaca-kaca karena ia sadar bencana apa yang saat ini sedang mengancam dirinya. “Jangan… jangan…”

Sam kembali menarik pisaunya dari tanah dan menempelkannya ke leher Tsania.

“Kamu sudah dewasa, sudah tahu permainan apa yang sedang kita mainkan saat ini. Aku tidak akan segan menyakitimu baik dengan pisau ini ataupun dengan tangan kosong seandainya kau berani melawanku. Lebih baik kita bekerja sama maka aku tidak akan menyakitimu, setuju?” dengan sengaja Sam menekan pisaunya lebih dalam ke leher Tsania namun tidak sampai menyayat kulitnya yang putih mulus seperti pualam.

“I-Iya…” lirih Tsania menjawab, ia sangat ketakutan. Air mata gadis itu mulai menetes.

“Cup cup, tidak perlu menangis, sayang. Aku janji tidak akan menyakitimu, semuanya pasti baik-baik saja dan menyenangkan. Kalau sampai tidak enak, jangan panggil aku Bejo. Heh heh heh…”

Dengan penuh percaya diri, Sam memeluk Tsania dan menempelkan kemaluannya yang sudah membesar ke paha sang gadis cantik. Tangan pria tua itu bergerilya menyusuri seluruh tubuh Tsania, bergerak turun dari atas, mulai rambut, hidung, pipi, leher, hingga ke payudara.

“Kamu cantik sekali, sayang.” Bisik Sam di telinga Tsania.

Tsania memejamkan mata ketika bibir hitam pria tua itu menelusuri leher dan pipinya, sentuhannya membuat bulu kuduk sang dara berdiri dan merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Belaian demi belaian Sam disarangkan, semua demi mencoba membuai angan Tsania yang masih dilanda shock dan ketakutan yang amat sangat.

Tangan Sam dengan mahir membuat gadis itu rileks dan mulai pasrah pada tangan jahil sang pria tua. Nafas Tsania mulai berat, walau pasti tidak mau mengakui, tapi gadis itu pasti mulai terangsang. Kali ini Sam menarik tangan dan menjelajah masuk ke perut Tsania dari bagian bawah pakaian yang dikenakan dara cantik itu.

Sentuhan lembut Sam mau tidak mau membuat Tsania merinding, pria tua itu bisa merasakan gelinjang tubuh Tsania ketika tangannya bergerak ke atas menuju ke buah dada sang dara yang ranum. Gadis itu menatap Sam dengan mulut terbuka kecil dan mata yang menerawang entah ke mana.

Mengetahui Tsania sudah mulai terangsang, Sam memberanikan diri menyingkap baju dan BH gadis muda itu. Sekejap saja, gundukan payudara sentosa sang dara menyambut dinginnya malam dan siap dinikmati oleh sang pria tua. Sam mengusap dan meremas payudara Tsania, membuat gadis itu menjerit lirih karena tak kuat menahan nafsu.

“Ouuughhh…” desah Tsania lirih ketika puting susunya dipermainkan lidah Sam.

Kecupan demi kecupan membuat Tsania yang masih minim pengalaman bercinta menjadi merem melek menahan diri agar tidak terangsang.

“Aheemm… haaahhh… ahhh…” erangan sensual Tsania terdengar sangat erotis bagi Sam, ia menggigit puting payudara gadis itu dengan gigitan kecil dan meninggalkan cupang di balon buah dadanya.

Kepasrahan Tsania membuat Sam dengan bebas melucuti satu demi satu pakaian yang dikenakan gadis itu. Sesuai dengan namanya, Sam adalah orang yang ‘bejo’ atau beruntung. Ia menjadi orang pertama yang menikmati keindahan utuh tubuh seksi sang gadis muda rupawan ini. Akhirnya kedua sosok berlainan jenis itu bertelanjang bulat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s