Pevita Virgin Part 4

Posted: July 4, 2011 in art
Tags:

Tanganku segera meraih pinggul Vita dan menariknya mendekat, tidak ada perlawanan. Aku lalu memegang kedua tangan Vita yang masih melintang didepan dadanya, dan menurunkannya, payudara indah itu kembali terpampang, kali ini lebih dekat. Dengan tangan sedikit gemetaran, aku mengulurkan tanganku. Satu jariku menyentuh puting payudaranya yang berwarna coklat kemerahan, aku memutar-mutarkan jariku sebentar, lalu telapak tanganku langsung meraih bukit payudaranya, aku mengusapkan telapak tanganku dan menikmati lembut dan kenyalnya payudara Vita. Akhirnya aku menggunakan kedua tanganku, dan perlahan memijati kedua bukit payudara Vita, Kenyal, lembut, halus, putih. Tanganku gemetaran, rasanya aku bisa merasakan detak jantung Vita mengalir melalui tanganku. Aku pun dengan perlahan meremas bukit kenyal itu, sementara jempol tanganku memencet dan memutar puting payudaranya. Vita mengerang perlahan, wajahnya memerah, kali ini bukan karena malu, tapi karena nafsu. Tidak tahan aku melihatnya, aku langsung mendekap tubuhnya, mulutku langsung mencaplok salah satu puncak payudaranya, rasa lembut itu kini memenuhi mulutku, bercampur harum wangi tubuh yang makin memabukkan, lidahku langsung memainkan putting payudara dalam mulutku, kupilin, lalu kuisap, dan kugigit perlahan payudara itu beserta putingnya. Vita kini menjambaki rambutku, erangan jelas keluar dari mulutnya. Aku mengulum buah dada gadis itu perlahan, terasa membusung lembut, putih dan kenyal. Diperlakukan seperti itu Vita menggelinjang,

“Ahh.. uuuhh.. aaahh”. Pengalaman pertamanya ini membuat angan-angannya terbang tinggi. Buah dadanya yang putih, lembut, dan kenyal itu terasa nikmat kuhisap lembut, tarian lidah diputing susunya yang kecil kemerahan itu mulai membuat puting itu berdiri dan mengeras. Sejenak kami menikmati suasana itu, sensasi yang sama sama baru kami temui sepanjang hidup kami. Aku lalu melepaskan dekapanku, aku meraih tangan Vita, mencium lembut punggung tangannya, dan membimbingnya naik keatas ranjang. Vita yang mengerti maksudku, lalu duduk di atas ranjang dan menggeserkan pantatnya ketengah, ia lalu membaringkan tubuhnya, sementara aku berlutut diantara kedua kakinya. Tanganku meraih pinggang Vita, menarik celana piyamanya, Vita mengangkat pantatnya sedikit sehingga dengan mudah celana piyama itu meluncur mulus melewati kedua kaki Vita. Aku melemparkan celana itu begitu saja. Kini Vita berbaring pasrah didepanku, dengan hanya mengenakan celana dalam berwarna biru langit saja, ia tampak gemetaran mungkin karena gugup. Aku meraih betis kanan Vita mengangkatnya dan menciumnya lembut, sedikit menjilatinya, ciumanku lalu turun menyusur hingga kelutut, kini mulutku hinggap di paha Vita yang putih mulus, wangi semerbak kini makin tajam menusuk hidung, aku menciumi dan menjilati paha mulus itu, hingga akhirnya mulutku hinggap di pangkal paha Vita, mulutku kini menciumi selangkangan Vita yang masih tertutup celana dalam yang tampaknya sudah mulai basah. Kedua tanganku kini meraih celana dalam biru langit itu dan mencoba menariknya, tiba-tiba tangan Vita memegang tanganku, mencoba mencegahku untuk menarik benteng pertahanan terakhir tubuhnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin ia berubah pikiran karena gugup atau takut. Aku tersenyum mencoba menenangkannya. Jangan sampai aku kelihangan kesempatan emas ini.

Sejenak Vita menatapku dalam dalam, ia menarik nafas panjang, memejamkan matanya lalu mengangguk. Kedua tangannya pun melepaskan tanganku. Aku menyunggingkan senyum kemenangan, dan meneruskan usahaku menarik celana dalam itu, menyusuri kaki indah Vita, betis, lewat pergelangan, dan terlepas, kulepaskan begitu saja hingga terjatuh diatas ranjang. Vita merapatkan kedua kakinya, tangannya juga menutupi selangkangannya, wajahnya kembali memerah antara malu dan nafsu. Aghhh aku tidak tahan! Sikap jinak-jinak merpati ini benar-benar membuatku kelabakan setengah mati! Aku tidak tahu apa ia benar-benar malu, atau hanya ingin membuatku makin penasaran saja. Aku tidak peduli, dengan kedua tanganku aku meraih kedua tangan Vita dan menariknya kesamping, aku juga meraih kedua lutut Vita, lalu mementangkannya lebar-lebar. Hmmppp, aku tercekat, mataku melotot seakan hendak meloncat keluar dari kepalaku, mulutku ternganga. Belum pernah aku melihat pemandangan seindah ini sebelumnya. Vagina Vita sedikit gemuk dan kemerahan, belahannya masih rapat dan amat tipis, rambut-rambut halus yang cukup lebat menghiasi bagian atas vaginanya, sementara belahannya sendiri bersih rapih.

“Ihh sam kok bengong lagi, emang ngeliatin apaan sih” katanya menggodaku.

“Ini non, sam, seumur-umur baru kali ini liat memek secara langsung, kok bagus banget yah non, sam boleh pegang?” tanyaku.

Vita hanya menganguk, jadi akupun mengulurkan tanganku perlahan, jariku akhirnya menyentuh vaginanya dari bagian bawah, lalu menyusuri belahannya, naik keatas perlahan, lalu kembali turun hanya saja kali ini jariku terbenam agak dalam. Vita menegakkan tubuhnya, ia melotot melihat jariku yang menyusuri vaginanya, iapun menggigit bibir bawahnya, mungkin karena merasa nikmat. Jari tengah tangan kananku kini terbenam makin dalam, dan dalam, sementara jari-jari tangan kiriku membuka bibir vagina Vita selebar mungkin, hingga akhirnya seluruh jari tengahku amblas masuk kedalam vaginanya. Vita memekik kecil, sementara aku mendiamkan tanganku, menikmati jepitan dinding vagina Vita yang berdenyut denyut. Perlahan aku memaju mundurkan tanganku, lalu sedikit demi sedikit meningkatkan kecepatanku, hingga akhirnya jari tengahku bergerak dengan liarnya keluar masuk vagina Vita. Erangan keras keluar dari mulutnya, ia menyodok-nyodokan pinggulnya menyambut gerakan jariku, tampaknya ia merasakan kenikmatan yang amat sangat. Kini yang keluar dari mulut Vita adalah erangan pendek yang tertahan.

“Egh.egh..egh.egh…” begitu seterusnya

Gerakan kami berdua makin lama makin keras dan cepat, hinggga akhirnya…Vita mengerang keras dan aku merasakan tanganku disemprot oleh cairan hangat yang muncrat dari dalam vagina Vita. Vita pun terengah-engah, ia terdiam sesaat menikmati orgasme yang baru saja melandanya. Aku menarik tanganku dan mengamatinya, jari-jemariku dipenuhi oleh dua macam cairan, cairan orgasme yang agak encer, dan cairan pelumas vagina yang lengket tapi licin. Aku menjulurkan lidahku untuk menjilati cairan itu. Lumayan gurih, pikirku dalam hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s