virna Part 2

Posted: November 15, 2011 in Uncategorized

“Baiklah sayang”
Mereka kembali bergumul. Lyra mulai bisa mengendalikan situasi setelah memperoleh tiga kali orgasme. Ia mulai mempergunakan kekuatan otot-otot panggulnya hingga kewanitaannya. Vaginanya menghisap dasyat penis hitam Sam.
“Uhhhh! Sayangg..enakkk..ekkkk..”rintih Sam.
“Enakk sayanggg?” tanya Lyra bergairah.
Entah mengapa ia-pun menjadi sangat suka pada rintihan kenikmatan katrok ala Sam pada saat mereka bersetubuh. Hal itu memancing gairahnya semakin tinggi dalam percintaan ini.
“Iyaaa sayang.. enak sekaliii “
“Kalauu beginii sayangg?” goda Lyra sambil melakukan kocokan balasan yang lembut dari arah bawah.
“Arggghhh…enakkk!” Sam semakin terpekik.
Yang dilakukan Lyra barusan bukanlah kocokan yang sederhana. kontolnya mendapatkan tekanan yang besar di dalam situ. Tubuh sintal Lyra dengan tinggi 174 sentimeter membelit tubuh kerempeng Sam yang hanya 153 sentimeter itu. Menguasai dan mendominasi hampir seluruh bagian tubuh Sam dan hanya menyisakan bagian lutut hingga ke telapak kaki yang terbebas. Tubuh Sam bagaikan seekor anak kambing yang tak berdaya di dalam belitan seekor pyton besar. Lyra membelit tubuhnya dan sekaligus menelan bulat-bulat organ vital bocah itu.
Akhirnya anak itu mendekap pinggang Lyra. Lyra mengenali gejala itu. Anak itu sudah akan orgasme. Ia segera melumat bibir Sam sambil balik mendekapnya. Lalu mengayunkan pinggulnya ke atas dan ke bawah secara kuat. sementara itu bagian kewanitaannya bekerja mencekik dan mengunci erat titit pemuda itu. Sam terpekik namun suaranya teredam oleh bekapan bibir Lyra. Saat itu ia menerima dua kenikmatan sekaligus dari bagian atas dan…bawah! Penisnya berdenyut keras. Lalu memuntahkan lahar panas dari ujung kepundan lubang pipisnya. croottt!…crottt…crottt!! Mata pemuda itu sempat terbelalak sekejap lalu mendelik selanjutnya terpejam erat. Begitu dasyat orgasme yang melanda Sam. Tubuhnya ikut terhentak-hentak setiap kali kontolnya memancutkan spermanya.
“Semprotinn..kangmass sayangg…habiskann semua..benih kangmas buatkuu..” desah Lyra sambil menikmati proses orgasme yang di alami Sam kali ini.
Liang senggamanya begitu penuh oleh titit dan jutaan benih subur Sam. Gumpalan cairan yang sama dengan cairan yang pernah membuahi rahimnya. Lyra menganggap Sam memang pantas mendapatkan itu. Ia seakan ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dua janin yang berhasil anak itu tanamkan ke dalam rahimnya saat ini. Tubuh mereka terus saling melekat satu sama lain dalam posisi missionary sambil berciuman ketat. Jika dulu Lyra selalu meminta Sam menjauh agar ia bisa melakukan proses pembuahan namun kini hal itu tak perlu lagi. Lyra membiarkan Sam meresapi sisa-sisa kenikmatan itu hingga tuntas di dalam dekapan tubuh cantiknya.
“Pejuh sam banyak sekalii”ujar Lyra ketika ciuman mereka terlepas.
“Habis tempik sayang enak sekali “puji Sam
“Benarkah? Sam suka tempikku? masih peret ya?”
“Iya sayang. Peret sekali. Bahkan lebih peret dari punya Surti”
Wow! Lebih peret dari gadis seusia Surti? Lyra jadi melambung mendengar itu. Ia yakin sekali Sam berkata apa adanya.
“Bagaimana Dian dan Nadine?” Ini kesempatan bagi Lyra untuk mencari tahu mengenai hal itu. Soalnya selama ini Alfi tak pernah mau mengatakannya.
“Bu Dian itu asyik tapi ‘ngisep’-nya ndak sekuat sayang apalagi kalau dia sudah ‘dapet’. Kalau bu Nadine hampir sama seperti sayang, tempiknya masih peret sekali meski sudah pernah melahirkan, tapi saya ndak begitu suka sebab dia mintanya selalu yang aneh-aneh. Buat saya tetap punya sayang yang paling enak”
“Hi hi hi terima kasih sam sudah memilih aku” Lyra tersenyum geli.
Ia paham apa maksud Sam. Nadine memang menginginkan begitu banyak variasi pada saat berhubungan intim. Padahal baik Sam maupun Alfi lebih suka melakukannya dalam posisi missionari karena posisi ini sederhana, tidak harus retok namun full body contact. Sedangkan Lyra sendiri memang lebih suka posisi itu karena secara psikologis ia merasa di dominasi dan dikuasai oleh pasangannya pada saat persetubuhan berlangsung dan itu memberikannya rasa nikmat yang sangat kuat. Sedangkan Dian kemungkinan saat itu ia memang tak terlalu antusias bercinta dengan Sam.
“Tapi bu Dian itu manis sekali orangnya” sambung Sam seakan ia ingin menegaskan bahwa keintiman bukanlah segala-galanya baginya. Ada hal-hal lain yang membuatnya suka akan seseorang.
“Hi hi ketahuan sekarang. Sam punya perasaan sama dia kan?”
Sam tersipu-sipu malu. Memang keisengan Dian tempo hari telah meninggalkan kesan yang mendalam baginya.
“Sam pasti kangen sama dia kan?”
“Iya sayang saya kangen sekali sama bu Dian”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s