lyra syg 1

Posted: November 29, 2011 in art
Tags:

Bangun-bangun langit sudah menguning dan jam sudah menunjukkan pukul 5.15 sore. Fantasi liar itu masih saja membayanginya. Dia memikirkan beberapa saat tentang niatnya itu, akhirnya dia membulatkan tekad untuk menjalankan fantasinya itu. Lyrapun melepas seluruh samaiannya lalu melilitkan handuk kuning ke tubuhnya. Dipanggilnya Sam melalui intercom yang mengarah ke ruang belakang yang ditempati pembantu.
“Sam, tolong kesini sebentar, kran air disini macet nih keliatannya !”
Sebentar kemudian sudah terdengar ketukan di pintu, dengan dada makin berdebar-debar, Lyra membukakan pintu kamarnya. Muka Sam langsung memerah bercampur gugup melihat penampilan seksi majikannya itu, paha jenjang yang putih mulus itu sungguh membuatnya menelan liur, belum lagi tonjolan dadanya yang membusung itu.
“Ayo Sam, sini, tolong diliat krannya ada yang ga beres !” sahutnya seraya menarik lengan Sam yang berotot itu dan mengajaknya ke kamar mandi.
Lyra sebisa mungkin bersikap normal walau gairahnya meningkat, agar tidak memberi kesan murahan pada tukang kebunnya itu. Sementara Sam terlihat salah tingkah dan matanya sesekali mencuri pandang tubuh Lyra yang indah itu, ingin sekali dia melihat di balik handuk itu, batang kemaluannya menggeliat karenanya.

Di kamar mandi mewah yang ada TV-nya itu, Lyra duduk di mulut bathtub dan menyilangkan kakinya sehingga paha mulusnya semakin menamsamkan keindahannya pada pria berkumis itu.
“Ini Sam, kran buat bathtubnya ga jalan, ga tau kenapa nih !” katanya
“Bisa kok Bu, ga ada yang macet !” kata pria itu setelah memutar kran dan airnya mengalir
“Ooohh…ya udah, soalnya tadi saya puter-puter berapa kali airnya ga keluar melulu sih, makasih ya Sam !” katanya seraya bangkit berdiri mau mengantarkan Sam ke pintu.
Lyra yang berjalan duluan ke arah pintu dikejutkan oleh tarikan dari belakang yang menyebabkan handuk yang melilit tubuhnya terlepas. Dia terkejut dan secara refleks menutupi bagian dada dan selangkannya dengan kedua tangan.
“Aww…kurang ajar, apa-apaan nih !” jeritnya pura-pura marah pada Sam
Namun Sam dengan cekatan segera menangkap kedua lengan Lyra lalu diangkat ke atas dan dikunci pergelangannya dengan telasam tangannya yang besar dan kokoh, selain itu pria itu juga memepet Lyra hingga punggungnya menempel ke tembok dekat pintu kamar mandi. Nafsu Sam yang sudah lama tidak bertemu dengan istrinya di kampung mendorongnya untuk bertindak lebih dulu sebelum Lyra memulai.

“Aahh, Kamu ini malu-malu, saya tau kok Kamu sengaja ngegodain saya, lagian emang daridulu saya udah kepengen nyicipin Kamu kok, hehehe !” Sam ketawa dekat wajah Lyra.
Mata pria itu seperti mau copot memperhatikan tubuh telanjang Lyra yang sempurna, putih mulus tak bercacat, buah dadanya kencang dan montok dengan perut rata, pada pangkal pahanya namsam rambut-rambut hitam yang lebat menutupi daerah itu. Lyra sendiri mulai merasa seksi dan terangsang memamerkan tubuh telanjangnya di depan tukang kebunnya itu.
“Sam…enngghh !” desahnya ketika Sam meremas payudara kanannya
“Gini kan yang Kamu mau, mumpung sam nggak ada !” katanya dekat telinga Lyra sehingga dengus nafasnya meniup telinga dan tenguknya dan menaikkan gairah Lyra.
“Lepaskan, Sam…eemm !” kata-kata Lyra tidak sempat terselesaikan karena Sam keburu melumat bibir tipisnya dengan bibirnya yang tebal.
Rontaan Lyra, yang pada dasarnya hanya pura-pura itu melemah karena birahinya yang makin meninggi. Ketika Sam melepas kuncian pada kedua pergelangannya, dia serta merta melingkarkan lengannya ke leher pria itu sambil membalas ciumannya dengan panas, lidah mereka beradu, saling belit dan saling jilat.

Tangan Sam bergerak ke belakang mengelus punggung, terus turun meremas bongkahan pantatnya. Sementara nafas mereka sudah memburu dan terasa hembusannya pada wajah masing-masing. Puting Lyra yang berwarna kemerahan mengeras akibat gesekan-gesekan jari Sam. Dia semakin terangsang, tanpa menghiraukan bau keringat dan mulut Sam dia mencumbu pria itu dengan penuh gairah. Mulut Sam kini mulai turun ke dagunya, lalu menurun lagi hingga badannya membungkuk dan berhenti di payudara kirinya. Puting itu dikenyotnya dengan gemas, dihisap dan sesekali digigit-gigit kecil sehingga Lyra makin mendesah.
“Sshhh…ahh…jangan Sam !” desahnya.
Penolakan yang tidak sunggu-sungguh itu malah memicu Sam untuk mempergencar serangan-serangan erotisnya.
“Ohhh…eengghh !” lenguh Lyra panjang dengan tubuh bergetar saat dirasakannya telasam tangan kasar itu menyentuh daerah kewanitaannya.
Sam memainkan jari-jarinya pada bibir vagina majikannya itu membuat daerah itu basah. Lyra tersentak, tubuhnya serasa kesetrum ketika jari tukang kebunnya telah masuk lebih dalam dan menyentuh klitorisnya. Tubuhnya seolah kehilangan tenaga, hanya bisa bersandar ke dinding dan pasrah atas perlakuan Sam.

Ciuman Sam kini merambat turun hingga dia berjongkok dan wajahnya tepat di depan kemaluan Lyra. Dia diam mematung dan pasrah saja saat mulut tukang kebunnya menyentuh kemaluannya yang berbulu lebat. Lidah Sam menyentuh bibir kemaluannya, sehingga tubuhnya bergetar, tanpa sadar Lyra juga menempelkan kemaluannya itu makin dekat ke mulut Sam. Sam menyedot-nyedot vagina Lyra dengan nikmatnya, lidahnya menyusup masuk mengais-ngais bagian dalam kemaluannya, sementara tangannya skamuk mengelusi paha mulus dan pantatnya yang bulat. Lyra menahan nikmat sambil menggigit bibir dan meremasi rambut Sam. Lidah hangat itu memain-mainkan klitorisnya sehingga rangsangan dari sana merambat ke seluruh tubuh Lyra membuat tubuhnya bergetar. Terbesit perasaan malu mengingat perbedaan status mereka yang demikian kontras, namun nafsu mengalahkannya, dia sudah tidak peduli pada semua itu, toh dirinya juga sudah sering melakukannya, ini hanya sekedar variasi dari kehidupan seksualnya. Lyra kini menaikan satu kakinya ke pundak Sam dan menikmati permainan lidahnya yang lihai. Sekitar sepuluh menitan Sam mengerjai kemaluannya hingga tubuhnya mengejang dan vaginanya mengeluarkan cairan orgasme. Sam masih menjilati vagina Lyra, cairan itu dia jilati dengan lahap.

Puas melahap vagina majikannya, Sam bangkit berdiri dan melepaskan samaiannya satu-persatu. Lyra menatapi tubuhnya yang berotot dengan kulit sawo matang itu, terlebih ketika Sam melepaskan celana dalamnya, mata Lyra tersamu pada penis yang telah menegang sebesar pisang ambon itu. Sam meraih tangan Lyra dan menggenggamkannya pada penisnya.
“Gimana Bu, gede kan, gimana dibanding sama punya Basam ?”
Tanpa diperintah Lyra berlutut sehingga penis itu menodong ke wajahnya, benda itu terasa keras sekali dan sedikit berdenyut-denyut. Tanpa malu-malu lagi, Lyra mulai menjilati penis yang digenggamnya itu, buah zakar hingga ujung penisnya tak luput dari sapuan lidahnya, sesekali benda itu dibelai dengan pipinya sampai pemiliknya melenguh keenakan. Setelah batang itu basah dan mencapai ketegangan maksimal, dia mulai menjilati dan mencium bagian kepalanya yang seperti jamur itu, kemudian dia membuka mulutnya dan memasukkan batang itu hingga mentok, itupun tidak masuk seluruhnya karena terlalu besar untuk mulut Lyra yang mungil. Kepalanya maju-mundur mengemut penis hitam besar itu sambil tangan satunya memijati payudaranya sendiri. Sebelum mencapai klimaks, Sam menyuruh majikannya berhenti dan mengangkat tubuhnya hingga berdiri.
“Nanti aja yank, jangan buru-buru, ntar kurang kerasa enaknya !” katanya

“Kita main di bak aja yah Sam, airnya udah penuh tuh !” ajak Lyra melihat ke arah bathtub yang airnya sudah mulai meluap.
lyra pun lalu berjalan ke arah bathtub, diambilnya sabun cair dari pinggir bak, ditumpahkan sedikit lalu diaduknya air itu dengan tangannya hingga berbusa. Keduanya pun masuk ke bathtub itu, bagi Sam ini pertama kalinya dia merasakan mandi di kamar mandi mewah itu bersama wanita secantik Lyra. Lyra duduk dan menyandarkan punggungnya pada tubuh Sam yang mendekapnya dari belakang. Sam lalu mengguyur wajah dan rambut majikannya itu dengan air hingga basah.
“Saya udah suka sama Kamu dari pertama ketemu dulu, apalagi kalau ngeliat Kamu di majalah atau di tivi, enak yah yank jadi orang terkenal gini ?” kata Sam sambil membelai rambut panjang Lyra.
“Ah, Basam kan cuma liat dari luarnya aja, sebenernya dunia saya ini ga seindah itu kok Sam, bisa dibilang munafik, kita ngapain aja harus jaga imej, susah jadi diri sendiri, hidup emang ga ada yang kurang, tapi masih belum happy, yah tapi ginilah Sam kalau kerja begini, mau gimana lagi !” jawab Lyra menghembuskan nafas panjang.
“Ssshhh…!” desisnya lirih ketika tangan Sam membelai payudaranya di bawah air sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s