franda next 1

Posted: December 29, 2011 in Uncategorized

Senyum yang mengembang di bibir mungil Franda membuat wajahnya yang cantik dan imut tambah mempesona. Sejenak aku terpesona, suasana remang-remang yang cukup romantis ini, ditambah wangi tubuh Franda yang menyergap hidungku, semuanya membuat jantungku berdebar-debar gak keruan, hasratku untuk menikmati tubuh Franda pun mulai tak terkendali. Aku berpindah duduk ke sebelah Franda. Aku sudah tidak peduli lagi apakah dia memang dibawah pengaruh mantra atau tidak, jika tidak pun aku akan memperkosanya dengan paksa, habis perkara.
Aku langsung menyergap dan menindihnya, payudara Franda yang masih tertutup kaus menempel ketat ke dadaku, sementara salah satu lenganku menekan bahu dan yang lain membekap mulutnya. Wangi tubuh Franda kembali menyegapku, kali ini lebih keras. Franda memekik kaget tapi tertahan oleh tanganku yang menutupi mulutnya, tubuh mungilnya meronta-ronta, tapi tentu saja bukan tandingan buat tubuh gorilaku yang tinggi besar. Karena rontaannya tidak berhasil ia akhirnya berhenti, kedua matanya menatap nyalang kearahku, sementara semburat marah memenuhi seluruh wajahnya yang justru menambah pesona kecantikan wajah belianya.
“Maafin Sam ya Non Franda…” kataku sedikit menggumam.
Tanganku yang tadinya menahan bahunya, kiniperlahan merayap kebalik kaus Franda dari bawah sekaligus menyingkapkannya hingga keatas. Jemariku mencoba mencari bra Franda, tapi rupanya ia juga tidak memakai Bra! Akibatnya sudah jelas, tanganku langsung menangkup benda kenyal di dadanya. Franda kembali meronta-ronta, tapi anehnya rontaannya begitu lemah, satu tangannya telah bebas tapi ia tidak berusaha mendorong atau mencakarku, hanya sedikit memukul-mukul punggungku saja, sama sekali tidak sakit; aneh.
Tanpa memperdulikan perlawanannanya, telapak tanganku langsung meremas-remas payudaranya. Payudara Franda yang berukuran tidak beitu besar jelas terasa kencang dan kenyal, namanya juga payudara remaja yang belum terkena polusi, sesekali ibu jari dan telunjuku memilin-milin puting susunya yang sepertinya cukup menonjol, dan hanya sebentar saja sudah berubah membengkak, keras dan mencuat. Aku juga menciumi lehernya yang begitu halus, menghisapnya hingga dia menggelinjang dan erangan tertahan mulai keluar dari mulutnya.
Pandangan mata Franda berubah sayu, dan rontaannya telah berhenti total. Aku menimbang sejenak dan akhirnya dengan perlahan melepaskan bekapan tanganku pada mulutnya… tidak ada jeritan atau makian yang keluar. Mata indahnya menatapku dalam-dalam kami pun bertatapan sejenak. Perlahan-lahan aku mendekatkan wajahku, dan segera kulumat bibirnya yang empuk dan terasa lembut sekali, hingga kugigiti perlahan. Lidahku juga mulai menggeliat ikut meramaikan suasana, dan menyelusup masuk kedalam mulutnya melalui celah yang terbuka, tak kuduga Franda menyambut dengan hangat kehadiran lidahku, ia mempertemukan lidahnya dengan milikku dan langsung kupijati lidahnya dengan lidahku. Kujilati seluruh rongga mulutnya sepuas-puasnya, lidahnya kusedot, Franda pun mengikuti caraku, sehingga tak lama kemudian sekeliling mulut kami agak belepotan dengan dengan air liur.
“Ehmm, tunggu… tunggu dulu.” Franda sedikit mendorong dadaku hingga aku menghentikan lumatanku pada bibirnya. Sejenak aku terkejut, jangan-jangan pengaruh mantranya sudah hilang.
“Kita pindah yuk. Takutnya si mbok keluar, ntar ketahuan.”
Aku pun tersenyum dan bangkit berdiri sambil membantu Franda untuk bangkit pula. Tanpa melepaskan tanganku, Franda menarikku untuk terus masuk kedalam kamarnya. Kamarnya sedikit kekanakkan karena penuh boneka, dan bed cover-nya pun bermotifkan Tweety. Setelah masuk kedalam kamar, Franda mengunci pintu kamarnya, lalu duduk di pinggir tempat tidurnya yang empuk. Aku segera berlutut didepannya dan karena perbedaan tinggi kami yang cukup jauh,kepala kami justru malah sejajar.
Aku meraih ujung kaus yang ia pakai dan menariknya keatas. Franda mengangkat tangannya hingga memudahkanku menarik kaus itu hingga lepas, memperlihatkan kedua payudara muda berukuran sedang yang begitu mengkal dan menggoda, aku menahan nafas sejenak, Kulitnya yang putih bersih dan halus, tampak bercahaya. Batang kemaluanku seketika berdenyut-denyut dan mulai mengeras. Sebuah pemandangan yang merangsang, payudara indah milik seorang artis muda yang super imut.
“Hi hi,ngeliatin apaan sih? Sampai segitunya.” Ia menggodaku
Mendengar itu aku langsung tersadar dan meneruskan seranganku. Kedua tanganku langsung menangkup payudara yang telah terbebas dari halangan tersebut, dan dengan lembut memijat dan meremas payudara yang halus kenyal milik Franda. Rangsangan pada payudaranya membuat puting susu Franda mengeras dan mengacung, warnanya kini kemerahan, ia telah terangsang berat. Untuk beberapa lama, aku terus meremas remas payudara itu, terkadang memuntir-muntir putingnya, sambil tidak lupa menciumi mulut, bahu, dan leher Franda.
Ciumanku kini turun hingga ke puncak dadanya. Lidahku menyapu pentilnya, lalu bergerak memutari seluruh daerah puting susuku sebelum akhirnya menghisapnya dengan gemas sampai pipiku kempot. Kugigit-gigit perlahan dan kumainkan dengan lidahku. Sementara satu tanganku memilin-milin ujung dadanya yang satu lagi. Aku lalu mengecupi dan menyedot kuat-kuat permukaan payudaranya, hingga merintih dibuatnya. Entah sadar atau tidak, tangannya meremas dan menarik kepalaku sehingga semakin terbenam di kedua gunung kembar yang putih dan padat itu.
Tanganku yang satu lagi mulai bergerilya menyusuri pahanya, sedikit meremas-remas merasakan lembut dan halusnya daerah itu, terus hingga akhirnya tanganku menyentuh ujung celana dalamnya lalu bergeser sedikit lagi ke tengah. Celana dalamnya terasa sudah lembab. Tanganku menemukan gundukan lunak yang erotis dengan belahan tepat ditengah-tengahnya. Aku tak kuasa menahan gejolak hati lagi, kuremas gemas gundukan itu. Franda memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya. Aku lalu menyusuri belahan tersebut dari luar dengan jariku, naik-turun dengan perlahan. Erangan pun keluar dari mulut Franda sambil semakin melebarkan pahanya,mempersilahkanku untuk menjelajahi daerah itu sepuasku.
“Hsss…, oh!”
Akhirnya tanganku menyusup kebalik celana dalam itu, dan merayap mencari liang yang ada di selangkangan Franda. Dan ketika menemukannya Jari-jari tanganku mula-mula mengusap-usap permukaannya, terus mengusap-usap dan ketika sudah terasa basah, jari-jariku menyusuri belahan pada bukit kecil itu. Susuran jariku di sepanjang belahan vagina itu perlahan semakin dalam dan dalam, hingga akhirnya bergerak masuk, menusuk kedalam liangnya. Masih amat sempit, kedua jariku hampir tidak bisa masuk, namun dengan perlahan, sedikit demi sedikit, kedua jari itupun sedikit menembus liang vagina yang masih perawan itu, merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding dalam liang itu.
“Ahhh.. Ahhh..” hanya suara erangan yang muncul dari bibirnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s