Tsania Marwa New 1

Posted: February 3, 2012 in Uncategorized

Wangi aroma tubuh Marwa segera membius diriku. Tak kupedulikan lagi ketakutanku. Segera kubelai pipi dan kening Marwa. Ia menatapku. Aku balas menatapnya. Lalu kuusap lembut rambutnya. Darah kelelakianku segera berdesir. Kukecup keningnya. Marwa diam saja. Kukecup rambut dan pipinya, segera aroma tubuhnya kembali membius diriku. Marwa benar-benar kuperlakukan seperti pacarku sendiri. Tiba-tiba timbul gelora yang besar untuk memeluknya. Marwa sepertinya mengerti karena dia segera mengubah posisi duduknya sehingga memudahkanku untuk memeluknya. Segera kupeluk Marwa dengan rasa yankang.
Tiba-tiba Marwa menarik tanganku ke dada kirinya. Segera kurasakan bagian lembut kewanitaannya tersebut. Nikmat sekali, namun dengan rasa agak takut. Pelan-pelan kusentuh buah dadanya yang lembut itu. Marwa diam saja. Aku mulai berani. Ku elus-elus buah dadanya, perlahan-lahan, dengan gerakan memutar, tanpa menyentuh bagian putingnya. Aku semakin berani. Tangan kananku kumasukkan ke dalam sweater merahnya. Segera ku elus bukit lembut tersebut di bagian pinggirannya. Ku putar-putar tanganku mengelilingi putingnya. Setelah beberapa saat, kusentuh putingnya. Ternyata putingnya sudah mengeras. Lalu kuremas dengan lembut. Marwa mendesah. “Ssshh”, desahnya.
Kulanjutkan penjelajahanku ke dada kanannya. Kuulangi hal yang sama. Lagi-lagi Marwa mendesah. Segera ia memagut bibirku, dan melumatnya. Saat kujulurkan lidahku, segera dihisapnya kuat-kuat. “Oh, nikmat sekali berciuman seperti ini”, pikirku karena memang aku belum pernah berciuman dengan wanita. Badanku bergetar hebat, karena aku belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Kami lanjutkan permainan kami beberapa saat. Setelah itu, kami berhenti untuk menikmati minuman kami. Kusodorkan sedotan minumanku untuk diminum terlebih dulu oleh Marwa. Kemudian kami lanjutkan nyanyian kami sambil berpelukan. Nyaman sekali rasanya saat itu.
Kuteruskan permainan tanganku dengan lembut, mengelus dan meremas dengan lembut buah dada Marwa. Marwa kembali memagut bibirku. Kami berciuman hebat. Tiba-tiba Marwa menarik tanganku, dan memasukan tanganku ke dalam celana panjangnya. Segera terasa bulu-bulu halus kemaluannya tersentuh oleh tanganku. Pelan-pelan kudorong tanganku ke bawah, menuju organ intimnya. Segera terasa tanganku menyentuh vaginanya yang hangat dan basah. “Montok kan punya gua?”, begitu ungkap Marwa saat tanganku mengelus lembut vaginanya. Segera kuiyakan pertanyaannya itu, padahal aku tidak bisa membedakan seperti apa vagina yang tidak montok. Kuusap terus vaginanya, seraya desahan Marwa mengiringi gerakanku. “Sssh.. Oh, Sam. Baru kamu laki-laki yang bisa memperlakukanku dengan lembut”, begitu terus desahnya. Tersanjung juga aku dipuji dirinya.
Kami terus bercumbu sampai tak terasa dua jam berlalu. “Yank, kamu jangan pulang dulu ya. Aku ingin dikelonin sama kamu. Temani sebentar aku di hotel ya?”, tanya Marwa kepadaku. Saat itu, aku agak takut. Takut aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur dengannya. Segera kuingat ajaran2 agama yang melarangku melakukannya. Namun sepertinya Marwa mengerti ketakutanku. “Aku cuma minta dibelai kok. Tidak lebih. Ya, Yank?”, tanyanya dengan mata memohon. Berat sekali rasanya untuk mengiyakan permintaannya. Di satu sisi, aku takut sekali melanggar ajaran agama. Lagipula, aku banyak tugas yang malam itu harus kuselesaikan. Namun sisi kemanusiaanku membuat aku tidak tega menolaknya. “Baiklah, tapi tidak lebih dari itu ya?”, jawabku. “Iya, gua janji deh”, kata Marwa lagi.
Kami segera keluar dari ruangan, membayar ke kasir, dan meluncur ke sebuah hotel menggunakan mobilku. Marwa menjadi penunjuk jalan. Setelah membayar uang deposit di kasir hotel, kami segera melenggang ke dalam kamar. Di dalam kamar, aku menyalakan televisi. Sejenak kami menikmati sebuah film. Tak lama kemudian, Marwa membentangkan tubuhnya di kamar tsb. “Yank, sini dong”, kata Marwa. Aku mengubah posisi duduk ku di ranjang mendekati Marwa. Aku dalam posisi duduk, sementara Marwa sudah telentang. “Yank, belai aku lagi ya”, kata Marwa. Segera tanganku mengelus dahi Marwa. Kuelus-elus dahinya beberapa lama, turun ke pipi, lalu ke rambutnya yang panjang.
Marwa menikmati gerakanku sambil menutup mata. Lalu kusandarkan tubuhku ke ranjang, kukecup lembut kening dan dahinya. Marwa membuka matanya, tersenyum. Lalu kucium kelopak matanya. Marwa benar-benar menikmati perlakuanku. Perlahan kukecup lembut bibirnya. Aku hanya menyentuhkan bibirku di bibirnya. Namun segera Marwa menjerat bibirku di bibirnya. Dilumat bibirku dengan bergairah, sementara tangannya dengan kuat memelukku. Kujulurkan lidahku untuk menyentuh bibir bawahnya, namun Marwa segera menghisap bibirku tersebut. Segera kuarahkan ciumanku ke bagian telinganya, dan kujilat bagian dalam daun telinganya dengan lidahku.
Marwa meronta-ronta dan mendesah. “Aduh Yank, geli sekali. Teruskan Yank”, katanya. Kucumbu Marwa terus di telinganya. Kemudian kuarahkan cumbuanku ke lehernya. Marwa mendesah hebat. “Ssshh.. sshh.. ohh”, desah Marwa. Aku tidak bisa menahan diriku lagi. “Marwa, boleh kubuka bajumu?”, tanyaku pelan kepada Marwa. Marwa mengangguk, tersenyum. Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya. Terlihatlah tubuhnya yang putih mulus, dengan bra berwarna biru. Kulanjutkan ciumanku di seputar dadanya. Tak lupa kukecup pelan ketiaknya yang bersih tanpa bulu. Marwa mengerang. “Yank, buka beha gua dong”, pinta Marwa. Segera kuarahkan tanganku ke punggungnya untuk membuka behanya. Sulit sekali membuka behanya. Maklum, belum pernah aku membuka beha wanita.
Setelah terbuka, pelan-pelan kutanggalkan behanya. Segera tampak bukit indahnya yang putih bersih, tanpa cacat, dengan puting kecoklatan. Indah sekali, pikirku. Ingin sekali aku menciumnya. Kupindahkan behanya dan bajunya ke meja supaya tidak kusut. Lalu, pelan-pelan kubasahi buah dadanya dengan lidahku. Kuputar wajahku memutari payudaranya. Marwa mendesah lagi. Gerakan itu terus kuulang beberapa kali, lalu berpindah ke payudara kanannya. Di sana kuulangi lagi gerakanku sebelum akhirnya lidahku tiba di puncak payudaranya. Kubasahi putingnya dengan lidahku, kumain-mainkan, kukulum, dan kuhisap. Marwa mengerang-ngerang. “Aduh, Yank..ssh..ssh. . geli sekali. Terus Yank..”. Sambil mengulum putingnya, pelan2 kuelus bagian perutnya. “Auw.. enak Yank..”, Marwa menekan wajahku ke dadanya. Kira-kira 15 menit Marwa kuperlakukan seperti itu.
“Yank, bukain celana panjangku dong..”, pinta Marwa. Segera kubuka kancing celananya, dan kupelorotkan ke bawah. Terlihatlah pahanya yang putih bersih, dan kewanitaannya yang masih tertutupi CD. Masih mengulum putingnya, segera kuarahkan tanganku ke selangkangannya. Kuelus-elus perlahan. Kugerakan tanganku dari dekat lututnya, terus bergerak sedikit demi sedikit ke arah pangkal pahanya.”ohh. .”, rintih Marwa menahan kenikmatan yang kuberikan. Kuelus vaginanya yang masih tertutupi CD. Ternyata CD-nya sudah basah. Kubelai pelan-pelan bagian tersebut. Marwa meronta-ronta, dijepitnya tanganku dengan kedua belah pahanya. “Oh.. ohh..” ronta Marwa. Gantian tangan Marwa yang masuk ke celana dalamku. Dipegangnya kemaluanku, lalu dikocok pelan-pelan. Uuh, nikmat sekali rasanya.. “Yank, buka celana dalam gua..”, pinta Marwa. “Jangan Marwa, gua gak berani melakukan itu..” kataku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s