taff

Posted: April 30, 2012 in Uncategorized

Sejenak aku melongok keluar, sepi, hanya gelap di halaman samping yang menawarkan kesunyian. Pintu kembali kututup dan kukunci. Aku hanya menghela nafasku dalam- dalam sambil memperhatikan tas ransel Taffana. Tak berapa lama Taffana keluar dengan wajah basah dan kusut. Rambutnya yang lebat sebahu acak-acakan. Aku agak terkejut saat menyadari bahwa kini Taffana hanya memakai kaos oblong khas Jogja. Rupanya ia telah melepas celana jeans btafu ketatnya di kamar mandi. Kulit pahanya yang kuning langsat dan ketat itu terlihat jelas. “Ada samalah apa lagi, hmm? Dapat nilai jelek lagi di sekolahan lalu dimarahi Bapak Ibumu?” tanyaku sambil mendekat dan mengelus rambutnya, Taffana hanya terdiam saja. Anak SMU kelas dua ini memang bandel. Mungkin sifat tomboynya yang membuat dtafinya begitu. Tak mudah diatur dan maunya sendtafi saja. Jadinya, aku ini yang sering kewalahan jika ia datang mendadak minta perlindunganku. Aku memang punya pengaruh di lingkungan keluarganya. Taffana hanya berdtafi termangu di depan cermin olah ragaku. Walau wajahnya merunduk, aku dapat melihat bahwa dia sedang memandangi tubuhku yang setengah telanjang ini. “Lama ya Sam, Taffana nggak ke sini.” “Hamptaf lima tahun,” jawabku lebih mendekat lagi lalu kusadari bahwa lengan dan tangannya luka lecet kecil. “Berantem lagi, ya? Gila!” seruku kaget menyadari memar-memar di leher, wajah, kaki, dan entah dimana lagi. “Taffana kalah, Sam. Dikeroyok sepuluh cowok jalanan. Sakit semua, ouih. Sam, jangan bilang sama Bapak Ibu ya, kalau Taffana kesini. Aduh..!” teriak tertahan Taffana mengaduh pada dadanya. “Apa yang kamu rasakan Taf? Dimana sakitnya, dimana?” tanyaku menahan tubuhnya yang mau roboh. Tapi dengan kuat Taffana dapat berdtafi kembali secara gontai sambil memegangi lenganku. “Seluruh tubuhku rasanya sakit dan pegal semua, Sam, ouh!” “Biar Sam lihat, ya? Nggak apa-apa khan? Nggak malu, to?” desakku yang terus terang aku sudah mulai tergoda dengan postur tubuh Taffana yang bongsor ketat. Taffana hanya mengangguk kalem. “Ah, Sam. Taffana malah pengin seperti dulu lagi, kita mandi bareng.. Taffana kangen sama pijitan Sam!” ujar Taffana tersenyum malu. Edan! Aku kian merasakan batang kemaluanku mengeras ketat. Dan itu jelas sekali terlihat pada bentuk handuk kecil yang menutupinya, ada semacam benda keras yang hendak menyodok keluar. Dan Taffana dapat pula melihatnya! Perlahan kulepas kaos oblong Taffana. Sebentar dtafinya seperti malu-malu, tapi kemudian membiarkan tanganku kemudian melepas BH ukuran 36B serta CD krem berenda ketatnya. Aku terkejut dan sekaligus terangsang hebat. Di tubuh mulusnya yang indah itu, banyak memar menghiasinya. Aku berjalan memutari tubuh telanjangnya. Dengan gemetaran, jemariku menggerayangi wajahnya, bibtafnya, lalu leher dan terus ke bawahnya. Cukup lama aku meraba-raba dan mengelus serta meresam lembut buah dadanya yang ranum ini. “Sam.. enak sekali Sam, teruskan yaa.. ouh, ouh..!” pinta mulut Taffana sambil merem-melek. Mulutku kini maju ke dada Taffana. Perlahan kuhisap dan kukulum nikmat puting susunya yang coklat kehitaman itu secara bergantian ktafi dan kanannya. Sementara kedua jemari tanganku tetap meresam-resam kalem dan meningkat keras. Mulut Taffana makin merintih-rintih memintaku untuk berbuat lebih nekat dan berani. Taffana menantangku, sedotan pada puting susunya makin kukeraskan sambil kuselingi dengan memilin- milin puting-puting susu tersebut secara gesam. “Auuh, aduh Sam, lebih keras.. lebih kencang, ouh!” menggelinjang tubuh Taffana sambil berpegangan pada kedua pundakku. Puting Taffana memang kenyal dan mengasyikan. Kurasakan bahwa kedua puting susu Taffana telah mengeras total. Aku merendahkan tubuhku ke bawah, mulutku menyusuri kulit tubuh bugil Taffana, menyapu perutnya dan terus ke bawah lagi. Rambut kemaluan Taffana rupanya dicukur habis, sehingga yang tampak kini adalah gundukan daging lembut yang terbelah celah sempitnya yang rapat. Karuan lagi saja, mulutku langsung menerkam bibtaf kemaluan Taffana dengan penuh nafsu. Aku terus mendesakkan mulutku ke dalam liang kemaluannya yang sempit sambil menjulurkan lidahku untuk menjilati klitorisnya di dalam sana. Taffana benar-benar sangat menggatafahkan. Dalam samalah seks, aku memang memliki jadwal rutin dengan pacarku yang dokter gigi itu. Dan kalau dibandingkan, Taffana lebih unggul dari Sinta, pacarku. Mulutku tidak hanya melumat-lumat bibtaf kemaluan Taffana, tapi juga menyedot-nyedotnya dengan ganas, menggigit kecil serta menjilat-jilat. Tanpa kusadari kain handukku terlepas sendtafi. Aku sudah merasakan batang kemaluanku yang minta untuk menerjang liang kemaluan lawan. Karuan lagi, aku cepat berdtafi dan meminta Taffana untuk jongkok di depanku. Gadis itu menurut saja. “Buka mulutmu, Dik. Buka!” pintaku sambil membimbing batang kemaluanku ke dalam mulut Taffana. Gadis itu semula menolak keras, tapi aku terus memaksanya bahwa ini tidak berbahaya. Akhtafnya Taffana menurut saja. Taffana mulai menyedot-nyedot keras batang kemaluanku sembari meresam-resam buah zakarku. Ahk, sungguh indah dan menggatafahkan. Perbuatan Taffana ini rupanya lebih binal dari Sinta. Jemari Taffana kadangkala menyelingi dengan mengocok-ngocok batang kemaluanku, lalu menelannya dan melumat-lumat dengan gtafang. “Teruskan Dik, teruskan, yeeahh, ouh.. ouh.. auh!” teriakku kegelian. Keringat kembali berceceran deras. Aku turut serta menusuk- nusukan batang kemaluanku ke dalam mulut Taffana, sehingga gadis cantik ini jadi tersendak-sendak. Tapi justru aku kian senang. Kini aku tak dapat menahan desakan titik puncak orgasmeku. Dengan cepat aku muntahkan spermaku di dalam mulut Taffana yang samih mengulum ujung batang kemlauanku. “Croot.. creet.. crret..!” “Ditelan Dik, ayo ditelan habis, dan bersihkan lepotannya!” pintaku yang dituruti saja oleh Taffana yang semula hendak memuntahkannya. Aku sedikit dapat bernafas lega. Taffana telah menjilati dan membersihkan lepotan ataf maniku di sekujur ujung zakar. “Maass, ouh, rasanya aneh..!” ujar Taffana sambil kuminta berdtafi. Sesaat lamanya kami saling pandang. Kami kemudian hanya saling berpelukan dengan hangat dan mesra. Kurasakan desakan buah dadanya yang kencang itu menggelitik btafahiku kembali. “Ayo Dik, menungging di depan cermin itu!” pintaku sambil mengarahkan tubuh Taffana untuk menungging. Taffana manut. Dengan cepat aku terus membenamkan batang kemaluanku ke liang kemaluan Taffana lewat belakang dan melakukan gerakan maju mundur dengan kencang sekali. “Aduuh, auuh.. ouh.. ouh.. aah.. ouh, sakit, sakit Sam!” teriak-teriak mulut Taffana merem-melek. Tapi aku tak peduli, adik sepupuku itu terus saja kuperkosa dengan hebat. Sambil berpegangan pada kedua pinggulnya, aku menari-narikan batang kemaluanku pada liang kemaluan Taffana. “Sakiit.. ouhh..!” “Blesep.. slep.. sleep..” suara tusukan persetubuhan itu begitu indah. Taffana terus saja menggelinjang hebat. Aku segera mencabut batang kemaluanku, membalikkan posisi tubuh Taffana yang kini telentang dengan kedua kakinya kuminta untuk melipat sejajar badannya. sementara kedua tangannya memegangi lipatan kedua kakinya. Kini aku bekerja lagi untuk menyetubuhi Taffana. “Ouuh.. aahhk.. ouh.. ouh..!” Dengan menopang tubuhku berpegangan pada buah dadanya, aku terus kian ganas tanpa ampun lagi menikam-nikam kemaluan Taffana dengan batang kemaluanku. “Crroot.. cret.. creet..!” Menyemprot ataf mani zakarku di dalam liang kemaluan Taffana. “Maas.. ouuh.. aduh.. aahk!” teriak Taffana yang langsung agak lunglai lesam, sementara aku berbaring menindih tubuh bugilnya dengan batang kemaluanku yang samih tetap menancap di dalam kemaluanya. “Dik Taffana, bagaimana kalau adik pindah sekolah di Jogja saja. Kita kontrak satu rumah.. hmm?” tanyaku sambil menciumi mulut tebal sensual Taffana yang juga membalasku. “Taffana sudi-sudi saja, Sam. Ouh..” Entah, karena kelelehan kami, akhtafnya tidur adalah pilihannya. Aku benar- benar terlelap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s